Tiket

January 5th, 2007 by dodirachman

Last name dunia ini memang amat menentukan arah cerita di dalamnya. Fana.. Dunia Fana !! Bayangkan !! Fana itu sebuah takdir bahwa hidup kita di ‘sini’ hanya sementara. Dengan kata lain waktunya terbatas, dan bahkan sangat terbatas. Dan sifat itulah yang mengikuti segala hal dan segala-galanya di ‘sini’. Semuanya terbatas. Terbatas ruang dan waktu. Terbatas jumlah dan ukuran. Usia, lahan hidup, sumber daya, kemampuan panca indera, daya jangkau pikiran, bahkan yang paling jauh sekalipun, daya khayal. Semua dan hanya semua, segalanya terbatas.

Maka berada di dalam dunia fana, lalu menjalani hidup di sana layaknya hari pertama peluncuran Harry Potter. Yang mendapat copy di hari itu mungkin telah memulai antri beberapa hari sebelumnya di depan pintu toko buku. Nun jauh di seberang negeri asal penerbitannya, orang-orang harus mulai membayar down payment sejak beberapa bulan sebelum hari H. Tetap di hari H pun, seperti harus berhimpit-himpitan berebut tempat untuk mendapat copy seri terbaru secepat mungkin. Keterbatasan kesempatan mendapatkannya memunculkan gengsi bagi siapa yang berhasil memilikinya sejak hari pertama peluncuran.  Semakin bertambahlah alasan orang untuk bergerak cepat.

Itu baru Harry potter. Belum lagi ribuan lain judul buku best sellers serupa, film box office, tiket konser diva, posisi tempat duduk di sekolah, jatah prime time televisi, ruang frekuensi siaran udara, tempat duduk di ruang tunggu dokter ternama, antrian restoran waktu buka puasa, kue iklan di industri media, jumlah items di butik internasional, lowongan kerja, pacar idaman, aliran air sungai di musim kemarau, persediaan kandungan minyak bumi, tiket pergi haji, jatah daging qurban, termasuk juga lahan tanah kuburan.

          Ada yang memang benar-benar terbatas, tapi ada juga yang sengaja dibuat terbatas supaya pemiliknya punya gengsi.

Pada akhirnya, semua seperti ruang-ruang teater panggung sandiwara. Keterbatasan tempat duduknya menuntut kita harus menunjukkan tiket untuk masuk, duduk dan menikmatinya. Kita bisa menghindari tontonan favorit, lalu beralih pada pilihan lain yang sesungguhnya mungkin ada. Tapi tiket harus tetap ditunjukkan. Entah darimana dan bagaimana kita mendapatkan sang tiket. Reserve sejak lama, tiket gratis dari kenalan dekat, tiket hasil traktiran, tiket pemenang kuis dan undian, atau beli dadakan dari calo.

Situasi ini amat sangat tidak mudah. Teramat sangat sulit, malah. Karena hal memperoleh tiket ini menyangkut kemampuan finansial dan networking. Kerap orang menamainya usaha. Ketidakmampuan akan dua hal itu akan memberi efek yang sungguh tidak ringan. Percayalah. Tunggu sampai anda merasakannya benar-benar. Di rimba dunia fana ini, kita bisa menjadi korban pikiran dan perasaan kita sendiri.

Semua kita, punya bagiannya masing-masing. Semoga benar adanya. Sebelum semua air mata ini kering, sebelum kesabaran menemukan jurang lalu mati terperosok.

Semoga…

Masah Laluh

December 13th, 2006 by dodirachman

Selamat pagi .. :) Perkenalkan, saya Masa Lalu. Saya bukan manusia. Bukan saja karena saya immortal, saya juga intangible. Saya hidup membayangi manusia. Saya bisa muncul kalau manusia membangkitkan ingatannya, mengolahnya dengan hati, plus mungkin kolaborasi dengan otak. Saya bisa lebih nyata, karena manusia bisa menciptakan teknologi dokumentasi. Saya dicatat, dibukukan, difoto, direkam, dan hasilnya disimpan untuk dibuka, dilihat, dan diputar sewaktu-waktu.

Sebenarnya saya hanyalah saya, Masa Lalu. Sudah terjadi, ada di belakang, tidak bisa dikotak-katik lagi, dan tidak bisa diputar untuk dialami lagi. Tapi justru disitulah masalah-masalah muncul. Karena sudah terjadi, saya terlanjur menimbulkan akibat tertentu dan mengubah sesuatu. Kalau akibat dan perubahan ini tidak diinginkan, saya akan berubah jadi kambing hitam. Lalu manusia mulai berkata ‘kalau saja…’.

Karena ada di belakang, saya amat mungkin membebani manusia. Terutama bagi mereka yang tidak menginginkan saya terjadi. Tapi anehnya saya tetap ditempel rekat di masa kini, dilhat-lihat lagi, diingat-ingat lagi, disesali, sekaligus dikutuk. Maka si manusia tadi akan lelah melangkah dengan berat karena berjalan sambil menyeret-nyeret saya.

Jangan lupa, saya bisa dijadikan alasan untuk membalas dendam. Padahal tak ada yang benar-benar terbayar dari pembalasan itu. Saya bisa dijadikan amunisi pada setiap pertengkaran. Padahal manusia juga punya catatan terbarunya yang lebih baik di masa kini.

Anda kenal Malam? Nah, kalau manusia ketemu Malam, biasanya itu waktu yang pas buat hati dan otaknya untuk berkelana berkeliaran menangkap khayalan masa depan dan ingatan tentang saya. Kalau saya tertangkap, beragam reaksi muncul. Manusia akan tersenyum-senyum sendiri sampai tertawa lepas, mengepalkan tangan karena kesal, atau bahkan sedih sendu sampai meneteskan air mata. Bisa jadi ini bukan menyangkut sesuatu yang amat serius untuk dipercaya. Tapi cobalah sewaktu-waktu..

Saya hanyalah saya, Masa Lalu. Kadangkala saya disebut sejarah. Sejarah seperti awan yang tampak padat tetapi ketika disentuh menjadi embun yang rapuh (Dewi Lestari). Seberdaya apapun saya membuat manusia mengalami berbagai kondisi emosional, saya tetap saya. Bukan siapa-siapa. Tidak juga berkemampuan apa-apa.

Kondisi ini memang cukup berat. Untung manusia punya ruang fiksi. Di tempat ini, saya diyakini bisa diubah sesuai keinginan manusia. Seolah-olah ada mesin hasil teknologi baru yang memungkinkan manusia pergi menjelajahi waktu lampau, melakukan perubahan sehingga punya masa kini yang lebih baik. Dari mesin waktu yang dimiliki musuh Austeen Power, konsep lompatannya Sam Beckett di Quantum Leap, sampai permadani ajaibnya Doraemon. Kalau anda tertarik, anda boleh memilih salah satunya, dan mulailah menghayal untuk memperbaiki dan mengubah saya demi masa kini yang lebih baik.

Tapi jika tidak, berdamai sajalah dengan saya, dan lihat kemudian hasilnya. Sebab saya akan tetap ada di belakang, sementara hidup berjalan ke depan. Di sana akan ada masa depan yang anda yakini harus lebih baik.. (katanya)

Yaa, begitulah..

Ulang… Tahun…

September 13th, 2006 by dodirachman

Ulang tahun memang seperti terlanjur jadi sesuatu yang amat terperhatikan oleh masing-masing kita. Layaknya faham yang doktrinasinya sudah dimulai sejak kecil, sedini mungkin, bahwa ia adalah sesuatu.

Lihat saja… Yang satu selalu menyiapkan pesta ulang tahunnya sejak jauh hari. Yang lain sudah mulai menghitung akan mendapat berapa banyak kado sejak sebulan sebelum ulang tahun. Yang lainnya lagi bingung tujuh keliling memikirkan bagaimana mendapat uang untuk mentraktir teman-temannya saat ulang tahun nanti. Yang lain lainnya lagi justru enggan menerima ucapan ulang tahun dari siapapun, termasuk keluarganya. Dari yang paling antusias, yang paling pusing memikirkan, yang paling memikirkan kado, yang cuma memikirkan aspek hura-huranya, atau yang paling menentangnya. Semua tentu punya posisi start yang sama, bahwa hari ulang tahun adalah ’sesuatu’. Adalah pengalaman dan pelajaran hiduplah yang membuat si ’sesuatu’ itu berbeda di benak tiap orang.

Saya sendiri pernah berharap banyak bahwa hari ulang tahun adalah saatnya saya mendapat banyak perhatian, ucapan, doa, kado, ciuman, kartu paling indah, atau kejutan dari orang-orang sekitar saya. Ya keluarga, teman sahabat, pacar (ups, boleh kok !! ), saudara jauh, teman lama, tetangga, bahkan orang asing di kelas sebelah, kantor seberang, guru yang tidak pernah mengajar saya, atau siapaun juga yang bisa memunculkan efek kejutan. Yang jelas, dulu, saya yakin bahwa ulang tahun adalah saat di mana saya akan sangat diperhatikan. Aah… apa sih yang lebih indah dari diperhatikan banyak orang?

Yup.. Namanya juga harapan. Belum tentu terwujud. Lebih sering tidak terwujud. Burwujud kebalikannya, bahkan. Mmm, repot kan jadinya. Harapan sudah terlanjur amat tinggi membumbung. Ternyata ia hanya gulungan gulali berwarna indah, yang keropos tak bermassa, manis merusak gigi, dan tajam menusuk tenggorokan. Mungkin sepatutnya hanya anak-anak yang bisa tertipu oleh warna-warni gulali.

Lalu saya putuskan untuk menyebar rata harapan dan kemungkinan mendapat perhatian. Yang tadinya saya pusatkan di hari ulang tahun, saya konsepkan untuk disebar seluas mungkin. Dan si ‘perhatian’ itu bukan sesuatu yang harus datang ke kita, tapi kita pun harus jadi salah satu produsennya, untuk banyak orang. Maka seharusnya perhatian-perhatian itu juga datang di hari-hari dan waktu-waktu yang lain. Minimal tidak hanya di hari ulang tahun, tapi misalnya juga di hari raya, tahun baru, akhir pekan, tiap makan malam, bangun di pagi hari, saat hujan deras, waktu panas terik, di tengah kemacetan, saat datang bulan, hamil muda, menjelang menopause, puber kedua. Saat apapun juga bisa dipilih semudah mungkin, kapan pun juga. Kita cuma perlu peka kapan orang tercinta kita feel a little bit low, and before they go too much low. Yup, that’s it.

Setelah itu, bahwa kita tetap berharap mendapat lebih pada saat kita berulang tahun… ya itu memang agak sulit untuk dihindari. Biar saja diri kita berharap, tapi jangan biarkan menjadi terlalu besar. Kalau terlalu besar, ya kasusnya hanya seperti gulali tadi. Cuma indah di bayangan.

Oh well, i feel good ‘coz i think i just finished my birthday problem… :)

Wait a second.. beberapa tahun lalu, dua hari menjelang hari ulang tahun, saya merasakan bete yang tidak jelas, lalu saya menelpon seorang kawan. Suara saya tidak bisa menipu. Hanya butuh dua kalimat buat teman saya untuk bisa meng’accuse’ bahwa saya sedang menderita ‘birthday syndrome’….. ????

Oh well, apa lagi ya itu?

Be In Stage

July 12th, 2006 by dodirachman

Akhirnya… !! Akhirnya kamu bisa tampil di panggung. Ya, di atas panggung nyata. Bukan di bangku penonton, seperti yang sudah-sudah. Bukan pindah-pindah di sekeliling panggung, mendokumentasikan pertunjukan di panggung, seperti yang pernah kamu lakukan. Bukan berdiri jauh di belakang deretan terbelakang kursi penonton karena kursi sudah terisi penuh, seperti waktu itu. Bukan pula di belakang panggung, menjadi supporter sejati bagi seorang pemeran yang akan tampil, seperti yang sering kamu jalani.

            Saat ini kamu benar-benar sedang tampil di atas panggung memainkan satu peran utama bersamanya. Ya, inilah giliran kamu. Bukannya tidak pernah ingin, tapi kamu memang selalu pandai menyembunyikan keinginan untuk bermain peran nyata di panggung. Saat menjadi penonton, kamu memang selalu menyuarakan tepuk tangan paling meriah untuk permainan panggung yang sedang kamu tonton. Mudah-mudahan itu tepuk tangan yang tulus. Saat kursi penonton penuh dan kamu cuma bisa berdiri di deretan paling belakang, kamu pun bersorak paling nyaring tanda kekaguman kamu atas pertunjukan di panggung. Semoga kekaguman yang sejati. Waktu kamu menjadi semacam penasihat peran, bukan main hebatnya semangat yang kamu pompakan bagi pemeran. Dan dokumentasi panggung yang kamu hasilkan selama ini, memang yang paling punya detail. Kamu memang pandai menutupi dirimu lalu membuat pelarian indah. Tapi ini tidak bisa direncanakan, pun dielakkan. Jadi, kalau sekarang kamu berada di atas panggung memainkan peran utama, itulah mungkin yang orang sebut dengan roda yang berputar. Giliran kamu..

            Sekarang kamu pasti bingung, gugup, penuh peluh, gemetaran dan demam panggung. Sekarang kamu tahu bahwa berada di atas panggung ini adalah benar-benar pengalaman nyata yang dijalankan tanpa persiapan khusus, tanpa skrip, apalagi workshop atau conditioning dengan pemain lain. Pokoknya langsung main. Rasakan langsung. Pelajari langsung. Terima saja tepukan dan cemoohan penonton. Rasakan sendiri benar salahnya. Tapi yang pasti kamu harus bersyukur berada di sana. Kamu sudah merasakan kan , betapa lama sekali mendapat giliran ini. Hitungannya bukan detik, hari atau pekan atau bulan. Tapi tahunan. Jadi syukuri saja semuanya.

            Tanpa skrip? Ya, dengan begitu kamu akan bertemu dengan banyak kejutan. Kamu pasti akan belajar jadi orang yang penuh spontanitas. Bahkan kamu akan menemukan dirimu yang lain. Dirimu yang kecil tapi berani menentang badai, membongkar kebiasaan, lalu menempuh resiko. Karena kamu tahu semua itu tidak akan terasa apa, dibanding rasa manis yang dominan. Kamu akan mabuk kepayang, senang bukan main karenanya.

            Di atas panggung ini, kamu sendiri yang akan melihat, membuktikan dan mengingat semuanya. Cara dia memandang, caranya berbicara, senyum, menyapa, membelai, menggenggam, berjalan, menjawab panggilanmu. Semua yang kalian dan akan kalian lakukan bersama. You’d deeply feels really good when the time is comin’. It’s time to FALL IN LOVE

metafora : mainan baru dalam hidup

June 19th, 2006 by dodirachman

It step-by-step-and-slowly turns out into kinda magic…

            Pertama, bertemu dengan pelajaran Bahasa Indonesia di SMP. Diajarkan tentang berbagai macam majas, gaya bahasa. Salah satunya metafora. Tentang mendirikan sebuah struktur paragraf yang berisi perumpamaan sesempurna mungkin, seakan-akan benda mati mampu hidup. Kala itu, dapatkah kita menangkap maknanya?

            Kedua, jauh setelah itu, ada publishing company bernama sama, Metafor. Kata yang sama banyak pula disebut-sebut sebagai bagian penting dalam dunia penulisan sastra. 

Lalu tiba-tiba, datanglah masa di mana dunia menjadi ramai, semua benda mati seperti bersuara.Bangku pojok McDonald yang selalu mengingatkan tentang 2-jam percakapan tengah malam yang terindah. Handphone, jodoh 1,5 tahun yang seperti merelakan dirinya pergi, mengucap selamat tinggal terdamai supaya muncul keberanian bersikap dan menentukan. Kaus tua yang selalu bisa mengembalikan ingatan tentang hari pertama munculnya sinar di ujung mulut gua depresi. Empat foto gambar sesosok tubuh muda yang membuat sesak dada karena pupusnya harapan untuk bersama. Kaki lima yang rajin bertanya ‘hai, ingatkah kamu saat kencan pertama dulu?’. Bangunan pusat belanja yang mampu menyadarkan betapa pernah ada sahabat terdekat masa awal remaja. Kain seprei yang tertawa-tawa menunjukkan dengan siapa kita pernah bergumul di atasnya. Persimpangan jalan yang memperdengarkan suara kecupan mesra waktu dulu.

Bukan satu, bukan dua, bukan pula tiga. Tapi semua…, semua berkata, berbicara, tertawa, berbisik, mengingatkan, menyentuh hati dan bahkan bisa menyesakkan dada. Cincin yang pernah disentuhnya, jalur angkot yang pernah dilalui bersama, mesin atm tempat menarik uang untuk menghabiskan waktu bersama, warna taksi yang pernah mengantarkan ke orang tercinta, PC yang menjadi media pertama berkenalan, posisi parkir tempat pembicaraan terhangat pernah dilakukan, restoran tempat memutuskan berpisah, rumah sakit yang menjadi alasan tempat bertemu, lagu pengiring saat bercinta, celana jeans yang menjadi objek pujian paling menghanyutkan, cuaca yang pernah menaungi satu masa terindah, harum wewangian tubuh tercinta yang pernah lekat di hidung, dan apalagi foto album yang jelas-jelas menampakkan sosok pengisi hati.

            Satu sisi wajah metafora. Darinya, kita membaca pertanda, firasat, petunjuk, ataupun peringatan. Subjektivitas personal nan individual. Gilakah dengan semua ini? Mungkin saja. Tapi bukankah sudah sejak lama kita bersahabat dengan sugesti?

Petai.. lalu Jengkol

June 10th, 2006 by dodirachman

I bet most of us have ever been asked of tricky silly question. It would be : Gimana caranya menghilangkan bau petai pada mulut kita? Dan kita pasti pernah juga mendengar jawaban yang tidak kalah garing untuk menjawab pertanyaan tadi. Caranya : coba aja makan jengkol.

Silakan tertawa kalau pasangan pertanyaan dan jawaban itu terdengar lucu sekali buat anda. Silakan merasa kesal kalau anda merasa jawabannya terlalu basi. Silakan mengabaikan teka-teki SD ini kalau anda merasa sudah terlalu dewasa membahasnya. Tapi silakan mencoba menelaah kebenaran naif dari fakta yang ditawarkan oleh jawaban pertanyaan tadi.

Saya sendiri pernah mencoba merasakan itu. Oh, bukan. Bukannya saya mencoba petai lalu mencoba juga jengkol. Saya masih berprinsip untuk menghindari keduanya pada hidangan menu apapun dan dimanapun. Saya rasa, mereka dan saya tidak berjodoh. Maksud saya, saya pernah tertawa ketika pertama kali mendengar teka-teki petai-jengkol ini karena untuk ukuran usia sekolah memang terdengar lucu sekali. Berikutnya, saya jadi agak kesal karena teka-teki ini makin terasa basi dan orang yang mengajukan teka teki ini berulang kali sepertinya jauh dari kreatif untuk menciptakan tebakan yang lain. Maka lalu saya abaikan saja kalau ada orang yang akan membahas teka-teki ini lagi dan lagi. Malas sekali mendengarnya. Hanya sepenting itukah hidup?

Mmm, itu bukan akhir, ternyata. Saya mengalami sesuatu yang menurut pandangan umum, tidak logis. Tidak bakal berujung. Hanya main-main. Terlalu mengandung resiko. Tidak bermanfaat. Well, saya sendiri melihatnya sebagai pengalaman baru yang akan memperkaya khasanah rasa dalam diri saya. Jadi saya teruskan untuk dijalani. Lalu saya seperti kena batunya. Memang saya benar dengan pendapat saya bahwa itu pengalaman baru yang menarik. Tapi pandangan umum juga benar. Suatu yang membuat kita terbuai, tapi cuma kita sendiri yang akan kena getahnya. Limbahnya, rasa sakit yang berkepanjangan dan sulit dihilangkan. Kata teman saya, tunggu waktunya aja atau cari yang baru. Wah iya juga sih. Mau gimana lagi? Lalu tanpa diundang, yang baru datang. Ternyata sama. Kasus sama dengan orang yang berbeda. Tapi tetap sama. Saya pun tetap sama dengan pendirian awal bahwa inilah kesempatan merasakan hal-hal baru. Ups.. baru? Ternyata tidak. Tapi kok tetap excited ya menyambutnya? Eh, tapi…yang kemarin kok terlupakan ya? Loh, tapi ini kan sama aja dengan yang kemarin. Jadi?

Persis seperti makan petai. Katanya sih nikmat banget. Tergoda untuk menghabiskan beberapa ‘papan’ petai. Lepas dari tingkat protein yang tinggi, tapi akhir dari menikmati petai itu kan kita sendiri yang susah. Mulut dan kamar mandi jadi bau. Kesal sendiri. Pasta gigi kok sepertinya tidak menarik untuk dicoba. Nah, kalau ditawarkan jengkol? Hilangkah bau petai? Terselesaikan-kah masalah?

          Andaikan semuanya bisa seringan itu. Sebab kenyataannya, ‘petai’ dan ‘jengkol’ di hidup saya tidak pernah sederhana. Saya cuma menjadi sadar bahwa joke petai-jengkol bisa menjadi relevan sekali. Relevan untuk ditertawai, dianggap mengesalkan, dicuekin, tapi ternyata tidak bisa begitu mudahnya diabaikan karena si petai dan si jengkol dalam hidup saya (mungkin juga dalam hidup anda ; bukan mengharap) sangat powerful dan menggoda, bahkan bermanfaat. Petai-jengkol yang mungkin saja akan muncul berkali-kali untuk menguji daya tahan kolaborasi hati dan otak saya.

Petai… jengkol… ah kalian J 

Magic Ball

May 27th, 2006 by dodirachman

Sejak awal memang telah tercipta bola itu. Sebuah bola kedut berukuran kecil yang sangat lincah dan dinamik yang begitu membal, mental sana mental sini, tektok menghampiri orang per orang secara begantian bergiliran maupun bersamaan.

Begitu dilontarkan lalu bergulir, bola ini seperti bergerak semaunya tanpa arah tujuan. Secara tiba-tiba, ia bisa mengagetkan hati yang dihampirinya. Hati itu bahkan belum sempat berkolaborasi dengan otak untuk mengetahui bagaimana ia bisa datang untuknya. Tapi pintu perasaan terlanjur terbuka. Tak ayal, sang hati hanya mampu lulut mengikuti naluri menggapai padanan yang ia lihat di cermin.

Banyak hati menunggu giliran datangnya sang bola. Menanti cemas kapan sang bola menghampiri lalu memperlihatkan si jantung hati. Inilah saat di mana pemilik hati merasa tertimpa deadline tersempit dengan beban terberat hingga depresi terdahsyat. Seperti tak sadar bahwa di ujung seberang sana ada hati –belahan jiwa, yang bukan milik siapa-siapa melainkan hanya untuknya. Cuma perlu waktu. Mungkin sang bola sungguh sibuk. Ada pula hati yang terhampiri sang bola tanpa mengharap karena belahan jiwa di sisi sudah. Inilah di saat kepala berhitung tentang berujung ke mana perselingkuhan, perpisahankah atau poligami? Dasar bola, ia hanya datang tanpa pretensi dan beban tugas apapun. Manusialah yang menerjemahkannya begitu kompleks.

Sayang teramat sayang, kehadiran sang bola disalahartikan. Atas namanya, manusia mengklaim haknya lalu baku hantam, lupa diri, saling bunuh bahkan lancarkan perang. Inilah juga saat di mana sang bola meluruhkan tangisnya dengan dalam. Betapa itu bukan maksud dari semua yang dilakukannya. Puluhan tahun berikutnya kalau beruntung, manusia akan memetik pelajaran walau untuk diulang lagi oleh generasi berikutnya.

Maybe, that’s the system, sometimes it needs more than one generation to understand. Tapi segala variasi gerak sang bola memang begitu mewarnai hidup. Paling tidak mampu menginspirasi karya banyak sekali orang. Penulis novel, musisi, pelukis, fotografer, film-maker, bahkan biro jodoh, pencetus hari valentine dengan segala perayaannya, pengusaha kartu ucapan, florist, pabrik coklat atau pengelola rubrik zodiak di majalah. 

Walhasil, sepanjang hidup manusia bola ini akan terus diharapkan kedatangannya, dinantikan kehadirannya, didalami maknanya, dicari artinya dan dijadikan tema hidup. Maka perhatikanlah sekeliling anda, mungkin sang bola cinta tengah mengarah, memperkenalkan anda pada belahan jiwa.. meskipun mungkin anda sudah memilikinya…

Self centered ; aren’t we all?

May 15th, 2006 by dodirachman

Apa ya rasanya jadi tanaman yang dibonsai? Maunya tumbuh besar dengan leluasa. Tapi lihat, sang pemilik memotongnya sana sini, membelokkan arah tumbuhnya, menempatkannya dalam pot mungil, dan membentuknya sesuai seleranya sendiri. Kata sang pemilik, supaya ‘bagus’. Kalau sudah bagus, mata manusia yang melihatnya tentu akan terasa segar. Kalau ada yang berminat, tentu bisa dijual dengan harga mahal. Mmm, akhirnya Cuma soal jualan toh. Atau paling –paling hobi. Kesenangan sendiri. Self centered? Hahaha..

            Gimana juga rasanya jadi murid yang gurunya galak segalak-galaknya. Tiap pertemuan punya peluang diomelin, dibentak-bentak bahkan caci maki. Sang guru ternyata cuma berkeinginan ‘sederhana’, yaitu supaya murid-muridnya punya rasa disiplin, menghargai orang, tambah pintar, bisa lulus dengan nilai baik. Kalau sudah begitu, tentu sang guru puas, senang dan bahagia. Mmm, kebahagiaan personal rupanya. Self centered-kah?

            Seorang upline menjelaskan dengan rinci kepada downline betapa pentingnya menjadi orang yang punya kreativitas dan inisiatif dan penuh inovasi. Penting juga untuk selalu mengembangkan diri dengan optimisme, berpikir positif, keyakinan tinggi, dan bersikap persuasif. Dengan demikian, bisa menjual lebih banyak dan mendapat ‘insentif’ yang lebih banyak pula. Mmm, kalau downline menjual, bukankah upline juga kebagian ‘insintif’? Self centered lagi?

             Pada akhirnya, kita memang tidak bisa tidak memikirkan kesenangan, ketenangan dan kebahagiaan kita sendiri. Mulai dari bos preman yang mengeksploitasi anak-anak untuk mengamen atau meminta-minta, konsultan manajemen kelas internasional yang memasang tarif bayaran ribuan dolar, negara kaya yang menjadi kreditur bagi negara miskin dan berkembang, Stephen Covey yang menjabarkan 7 Habits of Highly Effective People, politikus yang menghabiskan milyaran rupiah untuk aksi sosial di waktu kampanye, ibu kembar kaya yang menyediakan pendidikan cuma-cuma buat anak kurang mampu, aktivis sosial yang garang mengkampanyekan pemberdayaan buruh, LSM yang tuding sana-tuding sini teriak-teriak mengenai hidup yang amar ma’ruf nahi munkar bagaimanapun caranya, dan bahkan penceramah pengkhotbah agama yang tampil sana sini omong-omong tentang hidup yang lebih baik.

            Semua tinggal bagaimana kita melihatnya, kacamata apa yang hendak kita pakai, paradigma apa yang kita gunakan, dan dari persepsi mana kita memandangnya. Tapi akui saja, di balik segala kegiatan bisnis dan sosialnya, manusia tetap menyimpan hasrat besar tentang kepuasan kebahagiaan dirinya. Bahkan ketika kita ikhlas dan rela membantu atau membuat orang lain menjadi ‘lebih baik’, pada akhirnya kepuasan batin kita sendirilah yang mengendalikan itu.

            Jadi tentukan saja apa yang bisa membuat kita bahagia. Secara naluriah, pasti kita akan berkeinginan orang lain bahagia dengan cara yang sama dengan kita. Membuat orang lain menjadi ‘lebih baik’. Itulah selalu alasan kita. Tapi jangan heran, kalau orang punya kebahagiaannya sendiri yang lain dari yang kita punya.

            Tetap berbuat baik untuk kebahagiaan kita dan biarkan itu menjadi cermin untuk banyak orang. Atau buat (paksa) orang lain mencapai apa yang kita pikirkan tentang ‘lebih baik’. Terserah saya, terserah anda, terserah kita. Mudah-mudahan kita bisa memenuhi kebahagiaan kita sendiri dengan tidak merusak kebahagiaan orang lain. Karena tidak semua orang bisa seperti bonsai. The silent victim… 

taman hati

May 5th, 2006 by dodirachman

Taman itu bukan taman besar dan luas seperti taman di Marlinspike Hall milik kapten Haddock, yang bisa memuat banyak pohon besar. Taman itu juga tidak sempit, tidak pula berupa pot kecil yang diletakkan di tembok rumah pinggir gang. Setidaknya taman itu selalu diusahakan hijau, penanda kesejukan identik dengan kebahagiaan.

Dulu, ada waktunya direncanakan untuk diisi tetanaman hias beraneka ragam, bebatuan hias berwarna dengan rumput manila halus kecil hijau nan asri. Terwujudlah semua konsep itu, untuk waktu yang singkat. Sebab tak lama, rumput seperti hilang hasrat untuk subur hingga gundul tak merata. Pohon pagar hias terlalu cepat meninggi meninggalkan kesuburan daunnya. Batang tinggi tak sama, daun jarang di pangkal. Batu hias menjadi coklat terciprat tanah basah karena hujan. Tak ayal, seperti jodoh dikejar, impian hilang didapat.

Maka lama taman itu hanya ‘dibiarkan’ diisi oleh rumput hijau berdaun besar. Tanpa tanaman hias lain, tanpa batu hias berwarna, tanpa pot bunga, apalagi kolam ikan. Menolak semua. Hanya rumput yang dibiarkan hijau dengan tinggi daun yang dijaga sama.

Tapi apa daya, tanah di situ lumayan subur. Sang pemilik alpa, dibiarkannya biji jatuh di taman itu, lalu tumbuh. Bukan pohon yang besar. Tapi karena hanya satu-satunya, memang jadi terlihat indah. Sang pemilik pun membiarkannya tumbuh. Terpesona keindahannya yang sederhana, rumput lupa dijaga. Ia meninggi. Hijau tapi tak indah. Dipotonglah ‘pohon liar’ itu karena dianggap mengganggu ekosistem taman dan keindahannya. Situasi kembali sama, hanya hamparan rumput hijau, simbol kebahagiaan bagi sang pemilik. Rumput hijau indah yang dipikir tak ada di taman tetangga.

Dinamika adalah alamiah. Begitu pula dengan taman. Apalagi taman. Taman tetangga yang tidak punya rumput sesempurna itu, ternyata punya jenis ‘pohon liar’ sama yang pernah tumbuh itu. Dan disana, ia terlihat bagus.

Sang pemilik bingung. Linglung. Bagaimana mungkin indah di sana, tapi tidak di sini? Dicobalah ‘pohon liar’ itu tumbuh kembali di tamannya. Disesalkannya kenapa ia pernah dimusnahkan. Diimpikannya untuk tumbuh kembali. Bisakah? Mungkinkah? Bahagiakah rumput sendiri di taman? Siapa yang bisa menambah indah di sana? Pohon lainkah? Yang mana?

Taman.. rumput hijau.. sang pemilik.. pohon liar..   

Dinamika taman hati yang tak pernah sederhana… :)

Live Show

April 22nd, 2006 by dodirachman

            Iya deh, Ahmad Albar emang bener kok. Hidup ini emang kayak panggung sandiwara. Belum puas, Nike Ardilla juga ikutan punya versi lagu itu. Iya deh, secara panggung sandiwara.

            Karena emang hampir tiap hari lewat perempatan Slipi yang ‘megah’ itu, tidak bisa tidak gw harus mencari cara menikmati suasana penuh ‘glamor’ itu. Gimana gak? Perempatan Slipi itu tempat di mana ribuan orang penduduk wilayah Jakarta Barat lewat sebelum mereka sampai di rumah. Di Slipi itu, mereka datang dari berbagai penjuru Jakarta. Kampung Rambutan, Depok, Lebak Bulus atau Ciputat, Senen, Pulo Gadung, Rawamangun, Blok M, Bekasi, bahkan Cibinong. Gak perlu ditanya abis ngapain di sana. Yang jelas menumpuklah orang di Slipi. Siapa yang bakal menampung dan mengantar mereka berikutnya sampai ke rumah? Gak lain adalah the ‘Great Mikrolet’. Dengan jumlah yang ribuan itu di sepanjang hari, penumpang layaknya gula yang lalu dikerubuti dan diperebutkan oleh semut, yang tidak bukan Mikrolet itu tadi. Dan sekedar mengimbangi jumlah penumpang, maka mikroletnya juga jadi banyak, bahkan sangat buanyak. Padahal lebar jalannya ya segitu-gitu aja.

            Tapi dari sinilah gw bisa memulai melihat hectic-nya Slipi sebagai sebuah panggung sandiwara yang cukup besar. Pertunjukkannya bukan cuma 1 atau 2 hari, tapi setiap hari. Hari kemarin digunakan seperti gladi resik buat hari berikutnya. Tapi gladi resik yang dimaksud adalah pertunjukan sebenarnya di hari itu. Jadilah semua peran cuma bisa learning by doing. Memperbaiki ‘acting’nya sitiap hari. Termasuk gw, sebagai salah satu dari ribuan penumpang itu.

            Sekarang, mari kita bahas perannya satu per satu. Pertama, si ribuan penumpang tadi. Jumlah yang banyak ini tidak menjadikan mereka figuran lho. Adegannya memang kebanyakan seperti tarian penari latar. Lompat-lompat dari bis, lari-lari kecil untuk menyelamatkan diri menghindari tebasan bis besar dan truk gandeng yang gak peduli harus jalan kalau lampu udah hijau. Trus istirahat sebentar, mungkin sekedar untuk minum atau mencicipi cemilan yang’disediakan’. Lalu lari-lari lagi mengejar mikrolet yang cukup penuh, yang artinya udah siap berangkat tanpa ngetem-ngetem lagi. Atau ada juga penumpang yang berperan sebagai penumpang ‘pasrah’. Penumpang ini langsung naik mikrolet pilihannya, gak peduli siap berangkat atau masih ngetem selama 10-20 menit. Adegannya emang diam aja di dalem mikrolet, tapi bukan berarti figuran. Nah, penumpang pasrah ini kadang-kadang juga berubah terbangkitkan emosinya kalau sang supir gak kunjung menginjak pedal gas alias berangkat. Maka skrip untuk menunjukkan kemarahannya adalah : ‘Udah Pir, jalan Pir’, walaupun bukan ngomong ama buah pir. Kadang juga diselingi ama gedoran pelan ke jendela atau langit-langit mikrolet. Kalau supirnya cuek gak berangkat-berangkat, ada juga peran penumpang yang ngambek turun trus pindah ke mikrolet di samping kanan yang jelas-jelas siap berangkat.

            Yang kedua adalah peran Supir. Biasanya skrip tetapnya adalah menyebutkan pemberhentian terakhir mereka : ‘bayuran-bayuran’ atau ‘yo jeruk-jeruk’. Tau dong maksudnya? Bayuran berarti Kebayoran Lama. Jeruk maksudnya Kebon Jeruk.

Secara garis besar ada 2 jenis supir. Satu, yang gak kepengen ngantri lama, cuma teriak-teriak sebentar trus berangkat gak peduli mikroletnya masih kosong. Mungkin prinsipnya, rejeki gak ditunggu dengan cara ngetem tapi justru dijemput dengan terus melaju. Ntar di depan juga ada penumpang yang naik. Optimis. Dua, yang gemar sekali ngetem sampe mikroletnya penuh. Model supir ini biasanya kupingnya tebel banget. Bodo’ amat penumpang protes, yang jelas mikrolet gw blom penuh, kalo loe mo pindah ya pindah aja, ‘serah loe.

            Tapi hampir semua supir punya tingkat kenorakan yang sama. Mereka akan ribut-ribut klakson kalo jalannya terhalangi mikrolet di depannya. Tapi begitu mereka ada di barisan terdepan, mereka yang akan jadi penghalang. Selalu begitu. Inilah yang bikin gw geleng-geleng sambil senyum sambil nyari sebutan apa yang pas buat mereka selain munafik.

            Lalu ada peran penting yang lain. Mereka adalah Preman. Yup, jumlah mereka bukan satu atau dua, tapi banyak. Mereka ini pake topeng pengatur lalu lintas. Mengatur mikrolet yang terlalu lama ngetem, supaya cepet jalan. Dengan begitu jalan bisa terbuka buat kendaraan di belakangnya. Caranya dengan meneriaki supir sekenceng-kencangnya, kadang bawa tongkat kayu untuk menggedor badan mikrolet, dan pastinya minta jatah. Supir bisa ngetem agak sedikit lama asal bayar. Kalau gak bayar tapi ngetemnya lama, makian bisa dahsyat dan mungkin juga ada bogeman. Jadi ngerti kan kenapa gw sebut preman? Preman ini bisa tiba-tiba menghilang menyamar sebagai penjaga warung kalau ada polisi beneran. Tapi sayang polisi beneran ini cuma pemain figuran, yang tampil 1 atau 2 kali sebulan aja. Mungkin show di tempat lain kali ya.. J

            Selain polisi beneran, ada figuran lain seperti penjaga warung rokok, tukang teh botol, tukang pempek, tukang gorengan dan pengamen. Penting sih, tapi mereka biasanya cuma bermain di pinggir panggung. Mungkin mereka jadi pemeran utama di cerita lain.

            Panggung ‘Live Broadway’ ini selalu gw saksikan dengan antusias. Karena menurut gw, kita dipaksa cuma bisa menikmati. Gak mungkin kan gw ikut gedor-gedor dan teriak-teriak di slipi supaya semua sopir gak ngetem, atau supaya preman gak ada lagi. Yang ada gw bakal libur dari show itu karena bonyok.

            Kalau kita gak senang ama skenarionya, ya gak usah lewat sana . Kalo harus lewat sana , ya harus ikut jadi pemain di show Slipi itu. Supir dan preman akan tetep gak bener kayak gitu, secara pemerintah DPR polisi dan policy-makernya juga gak bener kan ?