Seonggok daging merah
Otak bisa berputar dan mengalirkan pikiran sederas mungkin. Mulut bisa mengucap ribuan kata. Jari mampu mengetikkan berparagraf-paragraf. Mereka bisa bersuara dengan nada yang seirama. Tapi lihatlah hati. Mungkin saja ia ada di seberang jalan. Seorang diri. Dan ini sama sekali bukan alasan untuk meremehkannya. Karena sesungguhnya ia bisa berbisik senyaring sirine mobil pemadam kebakaran. Ia mampu mengutus satu porsi bahagiannya untuk menelusuki alur pikiran, dan mengalirkan perintah kepada bibir dan lidah untuk berkata ‘lain’.
Botol mungil itu masih berdiri di sana. Isinya masih lebih dari separuh, karena ia tidak benar-benar diinginkan keberadaannya, meski kadang bisa diperlukan. Lalu kenapa tidak dibuang saja? Otak-kah yang lupa menyingkirkannya, atau hati-kah yang sengaja menyimpannya?
Itulah hati. Metropolitan dengan jiwanya yang bengis itu juga menyelipkan hati untuk merasa, berempati, sentimentil dan hanyut. Campur tangannya juga bisa besar dalam pengambilan keputusan. Otak di sana bisa kering tanpanya.
Ruang hati bisa melar dan ciut. Sepeninggal yang pernah menghuninya, ia akan terasa lebar dan luas, tapi kosong. Mau diciutkan bagaimana?
Mungkin hanya senyum dan syukur yang bisa membantu. Mereka akan mengalihkan kita pada pandangan yang lain. Bahwa dari yang ramai berseliweran di depan, ada satu untuk kita. Kenali mereka yang tertangkap, persilakan masuk yang berkenan di hati, biarkan ia menghuni ruang itu, rasakan kembali bahagianya..
What a life script..