Archive for May, 2007

Gonna miss ya..

Saturday, May 19th, 2007

Dapur tempat kamu memasak banyak hidangan. Nasi goreng, sayur tumis, perkedel kentang, atau sekedar indomie dan sepoci teh manis hangat. Dapur itu tidak juga selamanya kosong. Tapi kalau kamu sendiri di sana , aku mau di sana juga..

Kamar tidur tempat kamu berpetualang dalam dunia Tenchu, Harvest Moon, atau yang terbaru ; Final Fantasy. Kamar tempat kamu menghabiskan segala dvd series, mengobrol dengan Dee, atau sekedar merapikan dan merapatkan semua isi kamar. Kalau kamu ada di sana bersama kesepian, aku hendak menemani kamu..

Ruang kepala tempat kamu berfantasi, menghayal, membayangkan cita-cita dan menancapkan impian. Aku mau ada di sana .. tersenyum pada keyakinan kamu dan menaruh peluk atas kekalutan yang kamu hadapi..

Tidak juga perlu menamai aku, atau memberi judul segala kesempatan yang mungkin kita punya. Kamu tidak pantas susah untuk dan atas itu..

I’m gonna miss you so much..

Ruang Tunggu

Saturday, May 19th, 2007

Menunggu. Andaikan ia hanya sekedar menunggu angkot lewat, menunggu obat selesai diracik oleh apoteker, menunggu kucing kesayangan melahirkan, menunggu 30 menit lagi untuk istirahat makan siang atau menunggu di antrian teller bank. Cukup sekali mengucap ‘sabar’, ta da…… angkot datang, obat sudah dikemas, 3 anak kucing lucu-lucu sudah bergerak-gerak, jarum panjang dan jarum pendek sudah berhimpit menunjuk angka 12, dan layar monitor sudah menunjukkan nomor antrian kita.

          Tapi tidak semudah itu hidup bermekanisme. Menunggu punya begitu banyak wajah. Senyum simpul, tawa ceria, raut masam, kening menekuk, sorot mata melesu, wajah merah padam, bahkan rambut rontok, pipi tirus, bibir pecah-pecah, lidah kelu, dan kelopak mata sembab. Paling tidak sekali dalam hidup, kita dipertemukan dengan menunggu berwajah garang, menenteng kantong plastik besar berisi banyak emosi dan perasaan mendalam untuk kita. Awas, siap-siap depresi.

          Tidak percaya? Anda boleh mencicipi rasa menunggu yang ini. Menunggu datangnya pekerjaan baru, atau yang lebih istimewa lagi ; menunggu orang yang kita sayang putus dari pacarnya.

          Dunia dan kehidupannya seperti sebuah ruang tunggu besar atas keinginan masing-masing penghuni dunia ini. Kita merasa, memutar otak, dan mengasah akal hingga mendapatkan ide tentang apa yang kita bisa lakukan selama menunggu keinginan kita terwujud. Sekedar baca majalah? Main catur? Scrabble? Monopoli? Bersenandung? Atau berbalas pantun?

          Ruang tunggu ini memang menyesakkan. Karena kita tiba-tiba ada di sini, ikut menunggu tapi, bisa jadi, tidak persis tahu apa yang sebenarnya sedang kita tunggu. Banyak dari kita perlu berdarah-darah untuk sekedar tahu apa yang kita ingin tunggu. Lalu? Kembali berdarah-darah mengupayakannya, mengusahakannya, mengharapkannya. Menunggunya… !! Berdarah-darah pula ketika yang datang bukanlah yang ditunggu. 

          Hidup di dunia. Rentang periode yang aneh…

Pada akhirnya kita membutuhkan lebih banyak orang, bahkan untuk bersenandung sekalipun. Experience the time together, and hopefully the next thing come to us is something that we’re waiting for..