Maafkan saya

Maafkan saya.. karena tidak setuju dengan semboyan ‘Hari ini harus lebih baik dari hari kemarin, hari esok harus lebih baik dari hari ini’. Tiap hari terlalu unik untuk disamakan. ‘Lebih baik’ hanya persepsi. Jangan-jangan ‘lebih buruk’ tak ubahnya dengan ‘lebih baik’…

Maafkan saya.. karena tersenyum kecut atas kalimat ‘dewasalah’. Saya memang menyisakan ruang yang luas untuk menjadi kanak-kanak. Alih-alih saya mengajak anda : “Mari kita bertarung di cerdas cermat kedewasaan”. Kita lihat siapa yang berhasil duduk di babak bonus…

Maafkan saya.. karena mengacuhkan ‘wake up man, life goes on’. Wake up? Bahkan saya sedang tidak bisa tidur. Life goes on? Anda boleh mencoba hancurkan rumah impian dan cita-cita anda yang dibangun dari pondasi orang lain. Berkumpullah di balai desa, lantas kita bicarakan topik ‘life goes on’ bersama petani dari negara dunia ke-tiga…

Maafkan saya… atas kepemilikan puluhan sabit, ratusan keris, belasan samurai, dan ribuan ranjau darat. Saya punya surat izinnya. Luka yang anda derita bisa jadi karena anda terlalu banyak mondar-mandir gak jelas di pekarangan saya…

Maafkan saya kalau anda tidak paham kepada siapa dan bagaimana saya menaruh hati. Saya tidak pernah mengalungkan sign ‘bersalah’ di leher anda…

Mbak, Eli, Iqbal, Zaki.. kalian boleh lihat semua pemandangan ini…

3 Responses to “Maafkan saya”

  1. Leidya Says:

    hmmm..

  2. dunkin Says:

    buat orang2 yang selalu kaya dengan penghakiman, ini yang gue bakal bilang :

    10 X 10 cepe deh….!!!!

  3. I am Says:

    setuju pak!! scr hari2 itu selalu berbd, dan pd hr itu jg qt ga akan tau kapan qt nangis dan tertawa.., g pribadi hr2 g bs ke bc ko.. koran ga terbit psti di complaint org.. hehehe

Leave a Reply