Archive for January, 2007

Maafkan saya

Thursday, January 25th, 2007

Maafkan saya.. karena tidak setuju dengan semboyan ‘Hari ini harus lebih baik dari hari kemarin, hari esok harus lebih baik dari hari ini’. Tiap hari terlalu unik untuk disamakan. ‘Lebih baik’ hanya persepsi. Jangan-jangan ‘lebih buruk’ tak ubahnya dengan ‘lebih baik’…

Maafkan saya.. karena tersenyum kecut atas kalimat ‘dewasalah’. Saya memang menyisakan ruang yang luas untuk menjadi kanak-kanak. Alih-alih saya mengajak anda : “Mari kita bertarung di cerdas cermat kedewasaan”. Kita lihat siapa yang berhasil duduk di babak bonus…

Maafkan saya.. karena mengacuhkan ‘wake up man, life goes on’. Wake up? Bahkan saya sedang tidak bisa tidur. Life goes on? Anda boleh mencoba hancurkan rumah impian dan cita-cita anda yang dibangun dari pondasi orang lain. Berkumpullah di balai desa, lantas kita bicarakan topik ‘life goes on’ bersama petani dari negara dunia ke-tiga…

Maafkan saya… atas kepemilikan puluhan sabit, ratusan keris, belasan samurai, dan ribuan ranjau darat. Saya punya surat izinnya. Luka yang anda derita bisa jadi karena anda terlalu banyak mondar-mandir gak jelas di pekarangan saya…

Maafkan saya kalau anda tidak paham kepada siapa dan bagaimana saya menaruh hati. Saya tidak pernah mengalungkan sign ‘bersalah’ di leher anda…

Mbak, Eli, Iqbal, Zaki.. kalian boleh lihat semua pemandangan ini…

By the way

Monday, January 22nd, 2007

Tak perlu risau… Hatiku masih selalu untukmu. Jangan bicarakan luka itu. Jangan menghitung waktu yang setahun kurang itu. Aku tidak kemana-mana. Hanya sedang kedatangan tamu. Hatiku.. untuk kamu

Usah resah… Terlalu banyak yang kita punya. Terlalu kuat apa yang sudah tersimpul. Berkenan, sungguh, hati ini memilin waktu. Menanti belahannya..

Maafkan aku… Untuk terlalu mudah tersakiti. Sungguh.. tidaklah ia ada di sana. Hanya teras rumah hati. Kamu.. penghuni ruang utamanya

Maafkan aku… Untuk terlalu mudah mencipta luka. Untuk kesadaran yang terampok. Untuk mata hati yang pernah terhalang. Kamu.. teduh hati perdana

Tidak pernah tidak

Aku… dan kamu… Kita tidak pernah kemana-mana. Hati kita telah mengucap lebih dari kata. Aku terlalu sayang kamu

Harap lelah tak tergapai… Karena aku.. terlalu sayang kamu

setan kebenaran

Thursday, January 11th, 2007

Gila! Hati teriris ini tak kunjung menemukan solusi penyembuhnya. Luka hati ini telah menyebarkan keinginan ekstrim ke seluruh penjuru bagian tubuh. Menginspirasi otak untuk mengiris nadi, menyolok bola mata, mencabut batok kepala dari tiang leher, meremas-remas jantung sendiri, menyayat kulit, meninju pipi, membiarkan tubuh terlindas kereta api.

Gila! Orang gila pun mungkin punya keinginan menyiksa diri yang lebih simpel daripada itu. Anak kecil belum mengerti apa-apa pun menjauhi api kompor oleh hanya satu kali peringatan. Mungkin cuma Sponge Bob yang mampu memutilasi dirinya tanpa emosi.

Gila! Bahkan diri semoderat ini pun perlu diberi ujian berat macam ini. Bahkan yang terlaknat pun diberi ampun dan banyak kemudahan bertemu jalan keluar. Bahkan pemimpin rezim maha korup pun masih bisa lolos dari maut, dan tetap bergelimang harta.

Gila! Apa sih keadilan? Apa sih arti setimpal? Apa tuh semua tetek bengek sama rasa sama rata? Di mana kasih sayang yang dijanjikan pada semua? Rasanya tali sudah begitu regang. Menunggu apa lagi untuk putus? Teriak di tepi jurang, lalu terpeleset, tapi terselamatkan dan tetap hidup? Begitukah arti semua ini? Paling tidak masih hidup, cukup begitu?

Mampus kau setan kebenaran! Tertawalah sana sampai mati! Cekikikanlah sampai kering gigimu. Perlukah datang tanpa undangan? Enyah kau setan kebenaran! Terpaksa kuragukan tugasmu. Sengsara sudah hati ini. Nelangsa..

Titik terang, temukan aku segera. Aku sedang tidak bermain. Temukan aku segera. Sebelum semuanya terlambat..

Out of gas

Monday, January 8th, 2007

Tiba-tiba terlemparlah pada kesempatan menonton Cars berkali-kali. Gila! Mana  pernah membayangkan? Suka aja gak ama balap mobil. Menontonnya sekali. Kedua kali. Berikutnya. Dan sekali lagi. Ternyata bagus. Sederhana.. tapi menyentuh.

Kesimpulannya : Lightning McQueen is very lucky. Sikap sombongnya tidak sampai membuat dia celaka tiga belas atau terperosok masuk jurang. Dia cuma ‘disenggol’ dengan kenyataan finish bersama musuh bebuyutan. Sempat hilang di kota terpencil, tapi tidak pernah kehilangan kesempatan tanding ulang. Bahkan kesempatan itu yang menunggu dan mencarinya. Singkat cerita dia menjadi jauh dari sombong, punya banyak teman, dapet pacar, dan semestinya bisa menang dan menggondol ‘Piston Cup’. Tapi yang terakhir ini dia lepas, mengingat hal-hal baik yang ia sudah dapet. Jadi kemenangan gak jadi hal mutlak yang mesti dinomorsatukan.

Beruntung sekali..

Tapi lihat mobil ini. Yang satu ini bukan pembalap, gak punya musuh bebuyutan, gak sombong, gak suka bikin masalah, bahkan gak pernah melihat apapun sebagai perlombaan. Life ain’t any race, katanya. Cuma mobil biasa yang sedang asik-asiknya mencicipi hidup bersama ‘the lovely one’. Melihat hidup bersama, menyaksikan pemandangan hidup bersama, merasakan masakan salah racik bersama, dengan cukup tenang menyusuri perjalanan pengalaman bersama. Sampai datanglah maha musibah. Kehabisan bensin…

Si mobil mungkin ‘gengsi’ atau malu atau entahlah. Dia tidak pernah bercerita pada ‘the lovely one’ tentang kehabisan bensin ini. Dia cuma berpikir, merasa, dan mengira bakal menjadi masalah besar buat ‘the lovely one’ kalau perjalanan bersama ini dilanjutkan dengan fakta kehabisan bensin. Tak pernah juga ia bertanya, apakah sesungguhnya ‘the lovely one’ tetap berkenan bersama dalam keadaan tanpa bensin dan kesulitan besar menemukan pom bensin. Dan ini kesalahan fatalnya. Si mobil berkeputusan buta untuk membiarkan ‘the lovely one’ meneruskan perjalanan tanpanya. Pikirnya, pasti banyak yang berkenan mengajak ‘ the lovely one’ meneruskan perjalanan. This cars must be so crazy.

‘The lovely one’ bingung, sedih, dan hancur berkeping-keping karena dibiarkan meneruskan perjalanan dengan yang lain. Gila!! Tapi entahlah!!

Dan kenyataan berikutnya adalah sesuatu yang gak terlalu sulit untuk ditebak. Yup. ‘The lovely one’ has unfortunately got another one to go on the journey. Sang mobil melihat, menyadari dan menyesali keputusannya..

Hebat!! Hebat sekali alam ini mengatur bahagia-susah..

Si mobil tentu tak bisa menyalahkan ‘the lovely one’ for being with another now. Begitu pula dengan ‘another’, gak mungkin bisa dipersalahkan. Bahkan si mobil juga tidak bisa menyalahkan bensin yang habis dengan semena-mena. Cuma si mobil yang patut dipersalahkan, wajib bertanggung jawab, dan dan harus menelan keadaan yang ada sekarang.

Hebat!! Hebat sekali alam ini mengatur bahagia-susah. Tak perlu banyak alasan. Tak perlu sesuatu yang ‘besar’ sebagai pemicu. Sementara bahagia telah berubah menjadi susah. Mudah-mudahan ujungnya tetap bahagia. Tapi tetap saja si mobil iri pada Lightning Mcqueen.

Lightning McQueen is f***ing lucky car..

Tiket

Friday, January 5th, 2007

Last name dunia ini memang amat menentukan arah cerita di dalamnya. Fana.. Dunia Fana !! Bayangkan !! Fana itu sebuah takdir bahwa hidup kita di ‘sini’ hanya sementara. Dengan kata lain waktunya terbatas, dan bahkan sangat terbatas. Dan sifat itulah yang mengikuti segala hal dan segala-galanya di ‘sini’. Semuanya terbatas. Terbatas ruang dan waktu. Terbatas jumlah dan ukuran. Usia, lahan hidup, sumber daya, kemampuan panca indera, daya jangkau pikiran, bahkan yang paling jauh sekalipun, daya khayal. Semua dan hanya semua, segalanya terbatas.

Maka berada di dalam dunia fana, lalu menjalani hidup di sana layaknya hari pertama peluncuran Harry Potter. Yang mendapat copy di hari itu mungkin telah memulai antri beberapa hari sebelumnya di depan pintu toko buku. Nun jauh di seberang negeri asal penerbitannya, orang-orang harus mulai membayar down payment sejak beberapa bulan sebelum hari H. Tetap di hari H pun, seperti harus berhimpit-himpitan berebut tempat untuk mendapat copy seri terbaru secepat mungkin. Keterbatasan kesempatan mendapatkannya memunculkan gengsi bagi siapa yang berhasil memilikinya sejak hari pertama peluncuran.  Semakin bertambahlah alasan orang untuk bergerak cepat.

Itu baru Harry potter. Belum lagi ribuan lain judul buku best sellers serupa, film box office, tiket konser diva, posisi tempat duduk di sekolah, jatah prime time televisi, ruang frekuensi siaran udara, tempat duduk di ruang tunggu dokter ternama, antrian restoran waktu buka puasa, kue iklan di industri media, jumlah items di butik internasional, lowongan kerja, pacar idaman, aliran air sungai di musim kemarau, persediaan kandungan minyak bumi, tiket pergi haji, jatah daging qurban, termasuk juga lahan tanah kuburan.

          Ada yang memang benar-benar terbatas, tapi ada juga yang sengaja dibuat terbatas supaya pemiliknya punya gengsi.

Pada akhirnya, semua seperti ruang-ruang teater panggung sandiwara. Keterbatasan tempat duduknya menuntut kita harus menunjukkan tiket untuk masuk, duduk dan menikmatinya. Kita bisa menghindari tontonan favorit, lalu beralih pada pilihan lain yang sesungguhnya mungkin ada. Tapi tiket harus tetap ditunjukkan. Entah darimana dan bagaimana kita mendapatkan sang tiket. Reserve sejak lama, tiket gratis dari kenalan dekat, tiket hasil traktiran, tiket pemenang kuis dan undian, atau beli dadakan dari calo.

Situasi ini amat sangat tidak mudah. Teramat sangat sulit, malah. Karena hal memperoleh tiket ini menyangkut kemampuan finansial dan networking. Kerap orang menamainya usaha. Ketidakmampuan akan dua hal itu akan memberi efek yang sungguh tidak ringan. Percayalah. Tunggu sampai anda merasakannya benar-benar. Di rimba dunia fana ini, kita bisa menjadi korban pikiran dan perasaan kita sendiri.

Semua kita, punya bagiannya masing-masing. Semoga benar adanya. Sebelum semua air mata ini kering, sebelum kesabaran menemukan jurang lalu mati terperosok.

Semoga…