Masah Laluh
Wednesday, December 13th, 2006Selamat pagi ..
Perkenalkan, saya Masa Lalu. Saya bukan manusia. Bukan saja karena saya immortal, saya juga intangible. Saya hidup membayangi manusia. Saya bisa muncul kalau manusia membangkitkan ingatannya, mengolahnya dengan hati, plus mungkin kolaborasi dengan otak. Saya bisa lebih nyata, karena manusia bisa menciptakan teknologi dokumentasi. Saya dicatat, dibukukan, difoto, direkam, dan hasilnya disimpan untuk dibuka, dilihat, dan diputar sewaktu-waktu.
Sebenarnya saya hanyalah saya, Masa Lalu. Sudah terjadi, ada di belakang, tidak bisa dikotak-katik lagi, dan tidak bisa diputar untuk dialami lagi. Tapi justru disitulah masalah-masalah muncul. Karena sudah terjadi, saya terlanjur menimbulkan akibat tertentu dan mengubah sesuatu. Kalau akibat dan perubahan ini tidak diinginkan, saya akan berubah jadi kambing hitam. Lalu manusia mulai berkata ‘kalau saja…’.
Karena ada di belakang, saya amat mungkin membebani manusia. Terutama bagi mereka yang tidak menginginkan saya terjadi. Tapi anehnya saya tetap ditempel rekat di masa kini, dilhat-lihat lagi, diingat-ingat lagi, disesali, sekaligus dikutuk. Maka si manusia tadi akan lelah melangkah dengan berat karena berjalan sambil menyeret-nyeret saya.
Jangan lupa, saya bisa dijadikan alasan untuk membalas dendam. Padahal tak ada yang benar-benar terbayar dari pembalasan itu. Saya bisa dijadikan amunisi pada setiap pertengkaran. Padahal manusia juga punya catatan terbarunya yang lebih baik di masa kini.
Anda kenal Malam? Nah, kalau manusia ketemu Malam, biasanya itu waktu yang pas buat hati dan otaknya untuk berkelana berkeliaran menangkap khayalan masa depan dan ingatan tentang saya. Kalau saya tertangkap, beragam reaksi muncul. Manusia akan tersenyum-senyum sendiri sampai tertawa lepas, mengepalkan tangan karena kesal, atau bahkan sedih sendu sampai meneteskan air mata. Bisa jadi ini bukan menyangkut sesuatu yang amat serius untuk dipercaya. Tapi cobalah sewaktu-waktu..
Saya hanyalah saya, Masa Lalu. Kadangkala saya disebut sejarah. Sejarah seperti awan yang tampak padat tetapi ketika disentuh menjadi embun yang rapuh (Dewi Lestari). Seberdaya apapun saya membuat manusia mengalami berbagai kondisi emosional, saya tetap saya. Bukan siapa-siapa. Tidak juga berkemampuan apa-apa.
Kondisi ini memang cukup berat. Untung manusia punya ruang fiksi. Di tempat ini, saya diyakini bisa diubah sesuai keinginan manusia. Seolah-olah ada mesin hasil teknologi baru yang memungkinkan manusia pergi menjelajahi waktu lampau, melakukan perubahan sehingga punya masa kini yang lebih baik. Dari mesin waktu yang dimiliki musuh Austeen Power, konsep lompatannya Sam Beckett di Quantum Leap, sampai permadani ajaibnya Doraemon. Kalau anda tertarik, anda boleh memilih salah satunya, dan mulailah menghayal untuk memperbaiki dan mengubah saya demi masa kini yang lebih baik.
Tapi jika tidak, berdamai sajalah dengan saya, dan lihat kemudian hasilnya. Sebab saya akan tetap ada di belakang, sementara hidup berjalan ke depan. Di sana akan ada masa depan yang anda yakini harus lebih baik.. (katanya)
Yaa, begitulah..