Ulang… Tahun…
Wednesday, September 13th, 2006Ulang tahun memang seperti terlanjur jadi sesuatu yang amat terperhatikan oleh masing-masing kita. Layaknya faham yang doktrinasinya sudah dimulai sejak kecil, sedini mungkin, bahwa ia adalah sesuatu.
Lihat saja… Yang satu selalu menyiapkan pesta ulang tahunnya sejak jauh hari. Yang lain sudah mulai menghitung akan mendapat berapa banyak kado sejak sebulan sebelum ulang tahun. Yang lainnya lagi bingung tujuh keliling memikirkan bagaimana mendapat uang untuk mentraktir teman-temannya saat ulang tahun nanti. Yang lain lainnya lagi justru enggan menerima ucapan ulang tahun dari siapapun, termasuk keluarganya. Dari yang paling antusias, yang paling pusing memikirkan, yang paling memikirkan kado, yang cuma memikirkan aspek hura-huranya, atau yang paling menentangnya. Semua tentu punya posisi start yang sama, bahwa hari ulang tahun adalah ’sesuatu’. Adalah pengalaman dan pelajaran hiduplah yang membuat si ’sesuatu’ itu berbeda di benak tiap orang.
Saya sendiri pernah berharap banyak bahwa hari ulang tahun adalah saatnya saya mendapat banyak perhatian, ucapan, doa, kado, ciuman, kartu paling indah, atau kejutan dari orang-orang sekitar saya. Ya keluarga, teman sahabat, pacar (ups, boleh kok !! ), saudara jauh, teman lama, tetangga, bahkan orang asing di kelas sebelah, kantor seberang, guru yang tidak pernah mengajar saya, atau siapaun juga yang bisa memunculkan efek kejutan. Yang jelas, dulu, saya yakin bahwa ulang tahun adalah saat di mana saya akan sangat diperhatikan. Aah… apa sih yang lebih indah dari diperhatikan banyak orang?
Yup.. Namanya juga harapan. Belum tentu terwujud. Lebih sering tidak terwujud. Burwujud kebalikannya, bahkan. Mmm, repot kan jadinya. Harapan sudah terlanjur amat tinggi membumbung. Ternyata ia hanya gulungan gulali berwarna indah, yang keropos tak bermassa, manis merusak gigi, dan tajam menusuk tenggorokan. Mungkin sepatutnya hanya anak-anak yang bisa tertipu oleh warna-warni gulali.
Lalu saya putuskan untuk menyebar rata harapan dan kemungkinan mendapat perhatian. Yang tadinya saya pusatkan di hari ulang tahun, saya konsepkan untuk disebar seluas mungkin. Dan si ‘perhatian’ itu bukan sesuatu yang harus datang ke kita, tapi kita pun harus jadi salah satu produsennya, untuk banyak orang. Maka seharusnya perhatian-perhatian itu juga datang di hari-hari dan waktu-waktu yang lain. Minimal tidak hanya di hari ulang tahun, tapi misalnya juga di hari raya, tahun baru, akhir pekan, tiap makan malam, bangun di pagi hari, saat hujan deras, waktu panas terik, di tengah kemacetan, saat datang bulan, hamil muda, menjelang menopause, puber kedua. Saat apapun juga bisa dipilih semudah mungkin, kapan pun juga. Kita cuma perlu peka kapan orang tercinta kita feel a little bit low, and before they go too much low. Yup, that’s it.
Setelah itu, bahwa kita tetap berharap mendapat lebih pada saat kita berulang tahun… ya itu memang agak sulit untuk dihindari. Biar saja diri kita berharap, tapi jangan biarkan menjadi terlalu besar. Kalau terlalu besar, ya kasusnya hanya seperti gulali tadi. Cuma indah di bayangan.
Oh well, i feel good ‘coz i think i just finished my birthday problem…
Wait a second.. beberapa tahun lalu, dua hari menjelang hari ulang tahun, saya merasakan bete yang tidak jelas, lalu saya menelpon seorang kawan. Suara saya tidak bisa menipu. Hanya butuh dua kalimat buat teman saya untuk bisa meng’accuse’ bahwa saya sedang menderita ‘birthday syndrome’….. ????
Oh well, apa lagi ya itu?