Archive for June, 2006

metafora : mainan baru dalam hidup

Monday, June 19th, 2006

It step-by-step-and-slowly turns out into kinda magic…

            Pertama, bertemu dengan pelajaran Bahasa Indonesia di SMP. Diajarkan tentang berbagai macam majas, gaya bahasa. Salah satunya metafora. Tentang mendirikan sebuah struktur paragraf yang berisi perumpamaan sesempurna mungkin, seakan-akan benda mati mampu hidup. Kala itu, dapatkah kita menangkap maknanya?

            Kedua, jauh setelah itu, ada publishing company bernama sama, Metafor. Kata yang sama banyak pula disebut-sebut sebagai bagian penting dalam dunia penulisan sastra. 

Lalu tiba-tiba, datanglah masa di mana dunia menjadi ramai, semua benda mati seperti bersuara.Bangku pojok McDonald yang selalu mengingatkan tentang 2-jam percakapan tengah malam yang terindah. Handphone, jodoh 1,5 tahun yang seperti merelakan dirinya pergi, mengucap selamat tinggal terdamai supaya muncul keberanian bersikap dan menentukan. Kaus tua yang selalu bisa mengembalikan ingatan tentang hari pertama munculnya sinar di ujung mulut gua depresi. Empat foto gambar sesosok tubuh muda yang membuat sesak dada karena pupusnya harapan untuk bersama. Kaki lima yang rajin bertanya ‘hai, ingatkah kamu saat kencan pertama dulu?’. Bangunan pusat belanja yang mampu menyadarkan betapa pernah ada sahabat terdekat masa awal remaja. Kain seprei yang tertawa-tawa menunjukkan dengan siapa kita pernah bergumul di atasnya. Persimpangan jalan yang memperdengarkan suara kecupan mesra waktu dulu.

Bukan satu, bukan dua, bukan pula tiga. Tapi semua…, semua berkata, berbicara, tertawa, berbisik, mengingatkan, menyentuh hati dan bahkan bisa menyesakkan dada. Cincin yang pernah disentuhnya, jalur angkot yang pernah dilalui bersama, mesin atm tempat menarik uang untuk menghabiskan waktu bersama, warna taksi yang pernah mengantarkan ke orang tercinta, PC yang menjadi media pertama berkenalan, posisi parkir tempat pembicaraan terhangat pernah dilakukan, restoran tempat memutuskan berpisah, rumah sakit yang menjadi alasan tempat bertemu, lagu pengiring saat bercinta, celana jeans yang menjadi objek pujian paling menghanyutkan, cuaca yang pernah menaungi satu masa terindah, harum wewangian tubuh tercinta yang pernah lekat di hidung, dan apalagi foto album yang jelas-jelas menampakkan sosok pengisi hati.

            Satu sisi wajah metafora. Darinya, kita membaca pertanda, firasat, petunjuk, ataupun peringatan. Subjektivitas personal nan individual. Gilakah dengan semua ini? Mungkin saja. Tapi bukankah sudah sejak lama kita bersahabat dengan sugesti?

Petai.. lalu Jengkol

Saturday, June 10th, 2006

I bet most of us have ever been asked of tricky silly question. It would be : Gimana caranya menghilangkan bau petai pada mulut kita? Dan kita pasti pernah juga mendengar jawaban yang tidak kalah garing untuk menjawab pertanyaan tadi. Caranya : coba aja makan jengkol.

Silakan tertawa kalau pasangan pertanyaan dan jawaban itu terdengar lucu sekali buat anda. Silakan merasa kesal kalau anda merasa jawabannya terlalu basi. Silakan mengabaikan teka-teki SD ini kalau anda merasa sudah terlalu dewasa membahasnya. Tapi silakan mencoba menelaah kebenaran naif dari fakta yang ditawarkan oleh jawaban pertanyaan tadi.

Saya sendiri pernah mencoba merasakan itu. Oh, bukan. Bukannya saya mencoba petai lalu mencoba juga jengkol. Saya masih berprinsip untuk menghindari keduanya pada hidangan menu apapun dan dimanapun. Saya rasa, mereka dan saya tidak berjodoh. Maksud saya, saya pernah tertawa ketika pertama kali mendengar teka-teki petai-jengkol ini karena untuk ukuran usia sekolah memang terdengar lucu sekali. Berikutnya, saya jadi agak kesal karena teka-teki ini makin terasa basi dan orang yang mengajukan teka teki ini berulang kali sepertinya jauh dari kreatif untuk menciptakan tebakan yang lain. Maka lalu saya abaikan saja kalau ada orang yang akan membahas teka-teki ini lagi dan lagi. Malas sekali mendengarnya. Hanya sepenting itukah hidup?

Mmm, itu bukan akhir, ternyata. Saya mengalami sesuatu yang menurut pandangan umum, tidak logis. Tidak bakal berujung. Hanya main-main. Terlalu mengandung resiko. Tidak bermanfaat. Well, saya sendiri melihatnya sebagai pengalaman baru yang akan memperkaya khasanah rasa dalam diri saya. Jadi saya teruskan untuk dijalani. Lalu saya seperti kena batunya. Memang saya benar dengan pendapat saya bahwa itu pengalaman baru yang menarik. Tapi pandangan umum juga benar. Suatu yang membuat kita terbuai, tapi cuma kita sendiri yang akan kena getahnya. Limbahnya, rasa sakit yang berkepanjangan dan sulit dihilangkan. Kata teman saya, tunggu waktunya aja atau cari yang baru. Wah iya juga sih. Mau gimana lagi? Lalu tanpa diundang, yang baru datang. Ternyata sama. Kasus sama dengan orang yang berbeda. Tapi tetap sama. Saya pun tetap sama dengan pendirian awal bahwa inilah kesempatan merasakan hal-hal baru. Ups.. baru? Ternyata tidak. Tapi kok tetap excited ya menyambutnya? Eh, tapi…yang kemarin kok terlupakan ya? Loh, tapi ini kan sama aja dengan yang kemarin. Jadi?

Persis seperti makan petai. Katanya sih nikmat banget. Tergoda untuk menghabiskan beberapa ‘papan’ petai. Lepas dari tingkat protein yang tinggi, tapi akhir dari menikmati petai itu kan kita sendiri yang susah. Mulut dan kamar mandi jadi bau. Kesal sendiri. Pasta gigi kok sepertinya tidak menarik untuk dicoba. Nah, kalau ditawarkan jengkol? Hilangkah bau petai? Terselesaikan-kah masalah?

          Andaikan semuanya bisa seringan itu. Sebab kenyataannya, ‘petai’ dan ‘jengkol’ di hidup saya tidak pernah sederhana. Saya cuma menjadi sadar bahwa joke petai-jengkol bisa menjadi relevan sekali. Relevan untuk ditertawai, dianggap mengesalkan, dicuekin, tapi ternyata tidak bisa begitu mudahnya diabaikan karena si petai dan si jengkol dalam hidup saya (mungkin juga dalam hidup anda ; bukan mengharap) sangat powerful dan menggoda, bahkan bermanfaat. Petai-jengkol yang mungkin saja akan muncul berkali-kali untuk menguji daya tahan kolaborasi hati dan otak saya.

Petai… jengkol… ah kalian J