Archive for April, 2006

Live Show

Saturday, April 22nd, 2006

            Iya deh, Ahmad Albar emang bener kok. Hidup ini emang kayak panggung sandiwara. Belum puas, Nike Ardilla juga ikutan punya versi lagu itu. Iya deh, secara panggung sandiwara.

            Karena emang hampir tiap hari lewat perempatan Slipi yang ‘megah’ itu, tidak bisa tidak gw harus mencari cara menikmati suasana penuh ‘glamor’ itu. Gimana gak? Perempatan Slipi itu tempat di mana ribuan orang penduduk wilayah Jakarta Barat lewat sebelum mereka sampai di rumah. Di Slipi itu, mereka datang dari berbagai penjuru Jakarta. Kampung Rambutan, Depok, Lebak Bulus atau Ciputat, Senen, Pulo Gadung, Rawamangun, Blok M, Bekasi, bahkan Cibinong. Gak perlu ditanya abis ngapain di sana. Yang jelas menumpuklah orang di Slipi. Siapa yang bakal menampung dan mengantar mereka berikutnya sampai ke rumah? Gak lain adalah the ‘Great Mikrolet’. Dengan jumlah yang ribuan itu di sepanjang hari, penumpang layaknya gula yang lalu dikerubuti dan diperebutkan oleh semut, yang tidak bukan Mikrolet itu tadi. Dan sekedar mengimbangi jumlah penumpang, maka mikroletnya juga jadi banyak, bahkan sangat buanyak. Padahal lebar jalannya ya segitu-gitu aja.

            Tapi dari sinilah gw bisa memulai melihat hectic-nya Slipi sebagai sebuah panggung sandiwara yang cukup besar. Pertunjukkannya bukan cuma 1 atau 2 hari, tapi setiap hari. Hari kemarin digunakan seperti gladi resik buat hari berikutnya. Tapi gladi resik yang dimaksud adalah pertunjukan sebenarnya di hari itu. Jadilah semua peran cuma bisa learning by doing. Memperbaiki ‘acting’nya sitiap hari. Termasuk gw, sebagai salah satu dari ribuan penumpang itu.

            Sekarang, mari kita bahas perannya satu per satu. Pertama, si ribuan penumpang tadi. Jumlah yang banyak ini tidak menjadikan mereka figuran lho. Adegannya memang kebanyakan seperti tarian penari latar. Lompat-lompat dari bis, lari-lari kecil untuk menyelamatkan diri menghindari tebasan bis besar dan truk gandeng yang gak peduli harus jalan kalau lampu udah hijau. Trus istirahat sebentar, mungkin sekedar untuk minum atau mencicipi cemilan yang’disediakan’. Lalu lari-lari lagi mengejar mikrolet yang cukup penuh, yang artinya udah siap berangkat tanpa ngetem-ngetem lagi. Atau ada juga penumpang yang berperan sebagai penumpang ‘pasrah’. Penumpang ini langsung naik mikrolet pilihannya, gak peduli siap berangkat atau masih ngetem selama 10-20 menit. Adegannya emang diam aja di dalem mikrolet, tapi bukan berarti figuran. Nah, penumpang pasrah ini kadang-kadang juga berubah terbangkitkan emosinya kalau sang supir gak kunjung menginjak pedal gas alias berangkat. Maka skrip untuk menunjukkan kemarahannya adalah : ‘Udah Pir, jalan Pir’, walaupun bukan ngomong ama buah pir. Kadang juga diselingi ama gedoran pelan ke jendela atau langit-langit mikrolet. Kalau supirnya cuek gak berangkat-berangkat, ada juga peran penumpang yang ngambek turun trus pindah ke mikrolet di samping kanan yang jelas-jelas siap berangkat.

            Yang kedua adalah peran Supir. Biasanya skrip tetapnya adalah menyebutkan pemberhentian terakhir mereka : ‘bayuran-bayuran’ atau ‘yo jeruk-jeruk’. Tau dong maksudnya? Bayuran berarti Kebayoran Lama. Jeruk maksudnya Kebon Jeruk.

Secara garis besar ada 2 jenis supir. Satu, yang gak kepengen ngantri lama, cuma teriak-teriak sebentar trus berangkat gak peduli mikroletnya masih kosong. Mungkin prinsipnya, rejeki gak ditunggu dengan cara ngetem tapi justru dijemput dengan terus melaju. Ntar di depan juga ada penumpang yang naik. Optimis. Dua, yang gemar sekali ngetem sampe mikroletnya penuh. Model supir ini biasanya kupingnya tebel banget. Bodo’ amat penumpang protes, yang jelas mikrolet gw blom penuh, kalo loe mo pindah ya pindah aja, ‘serah loe.

            Tapi hampir semua supir punya tingkat kenorakan yang sama. Mereka akan ribut-ribut klakson kalo jalannya terhalangi mikrolet di depannya. Tapi begitu mereka ada di barisan terdepan, mereka yang akan jadi penghalang. Selalu begitu. Inilah yang bikin gw geleng-geleng sambil senyum sambil nyari sebutan apa yang pas buat mereka selain munafik.

            Lalu ada peran penting yang lain. Mereka adalah Preman. Yup, jumlah mereka bukan satu atau dua, tapi banyak. Mereka ini pake topeng pengatur lalu lintas. Mengatur mikrolet yang terlalu lama ngetem, supaya cepet jalan. Dengan begitu jalan bisa terbuka buat kendaraan di belakangnya. Caranya dengan meneriaki supir sekenceng-kencangnya, kadang bawa tongkat kayu untuk menggedor badan mikrolet, dan pastinya minta jatah. Supir bisa ngetem agak sedikit lama asal bayar. Kalau gak bayar tapi ngetemnya lama, makian bisa dahsyat dan mungkin juga ada bogeman. Jadi ngerti kan kenapa gw sebut preman? Preman ini bisa tiba-tiba menghilang menyamar sebagai penjaga warung kalau ada polisi beneran. Tapi sayang polisi beneran ini cuma pemain figuran, yang tampil 1 atau 2 kali sebulan aja. Mungkin show di tempat lain kali ya.. J

            Selain polisi beneran, ada figuran lain seperti penjaga warung rokok, tukang teh botol, tukang pempek, tukang gorengan dan pengamen. Penting sih, tapi mereka biasanya cuma bermain di pinggir panggung. Mungkin mereka jadi pemeran utama di cerita lain.

            Panggung ‘Live Broadway’ ini selalu gw saksikan dengan antusias. Karena menurut gw, kita dipaksa cuma bisa menikmati. Gak mungkin kan gw ikut gedor-gedor dan teriak-teriak di slipi supaya semua sopir gak ngetem, atau supaya preman gak ada lagi. Yang ada gw bakal libur dari show itu karena bonyok.

            Kalau kita gak senang ama skenarionya, ya gak usah lewat sana . Kalo harus lewat sana , ya harus ikut jadi pemain di show Slipi itu. Supir dan preman akan tetep gak bener kayak gitu, secara pemerintah DPR polisi dan policy-makernya juga gak bener kan ?

Sweet Homey

Tuesday, April 4th, 2006

Suatu waktu, seseorang bercerita bahwa ia ‘mendiami’ sebuah halte. Di sana ia memulai pagi, kadang-kadang sarapan, lalu pulang di akhir senja atau bahkan larut malam untuk kadang-kadang makan malam lalu tidur. Dia sendiri tidak terlalu banyak cerita tentang siapa saja yang ia punya di halte itu, apakah mereka penting, dan interaksi seperti apa yang dilakukan dengan mereka. Yang pasti, dia tidak terlihat khawatir, takut atau ada masalah dengan halte dan orang-orang di halte itu. Cuma halte to’. Dihampiri untuk menunggu yang lain semisal teman, bus, angkot, ojek, sekedar minum, merokok, menahan panas sejenak atau menunggu hujan berhenti. Lalu pergi, dan datang lagi pada kesempatan lain untuk keperluan serupa yang sementara itu.

            Lihat di hari lain, jauh di masa berikutnya, orang yang sama bercerita kembali tentang haltenya itu yang ternyata sudah berubah menjadi istana indah tempat memulai semua hari dengan sarapan terlezat dan paling bergizi, tempat di mana pintu rejeki terbuka, bahkan tempat beristirahat ternyenyak dengan ranjang besar empuk paling sejuk. Istana indah berisi orang-orang terbaik, paling pengertian, the last resort, a shoulder to cry on, always be there, supportive, bla bla bla….bla bla bla bla….

            Halte menjadi istana, istana menjadi halte. Hidup memang tidak pernah membiarkan kita merasa ajeg dengan segala prinsip yang ada di kepala dan hati. Tentang masa tanam yang dilanda banjir bandang, tsunami yang merontokkan struktur rumah termegah di tengah kota, peramal nasib yang hidupnya berantakan, dan pawang hujan yang basah kuyup terguyur hujan deras di medan prakteknya. Atau tentang pendosa yang bertobat seperti diceritakan sinetron, tentang memindahkan rasa kasih sayang terbaik dari satu hati ke hati yang lain, dan tentang orang-orang tersayang yang ternyata paling sulit menerima kita apa adanya.  

Semuanya pasti berubah untuk mengeroyok dan mengoyak isi hati dan kepala. Situasi yang serba dikotomis, anomalis dan ironis ini menjadi sangat familiar. Seperti sinetron kejar tayang yang berubah-ubah skenario. Sang aktor bingung menjalani peran tapi istri di rumah hendak melahirkan anak yang ke lima dalam 5 tahun terakhir. Apa bijaksana memutus kontrak? Stasiun televisi mendapat serbuan kritik mengenai sinetron kejar tayang yang ceritanya makin membuai tak menapak, tapi rating dan pengiklan ramai mengerubung. Apakah rela memutus tayang?

Bayangkan saja cerita istana indah itu ada di paragraf pertama dan berganti halte di bait ke dua. Tak ingin rasanya berkata panjang lebar.

Hanya…. rindu rumah…