Gw punya idola baru. Dewi Lestari! Gak baru banget sih, wong gw itu sangat gandrung sekali dengan supernova pertama-nya. I believe I read Supernova 1 : Ksatria, Putri dan Bintang Jatuh at the very perfect time. The story, the content, and the message hit me at the very perfect place of my heart and mind. Begitu besarnya si pertama, sampai-sampai si kedua dan ketiga ‘Cuma’ dapet IPK 3,2. Yang pertama tentu saja 4,0. Cum Laude lah yauw!!
Di sebuah sesi interviewnya di Cosmopolitan FM minggu lalu, Dee cerita banyak hal tentang proses karya album solonya ‘Out of Shell’. Lebih luas, Dee cerita seperti apa aja yang membuatnya kebanjiran aliran inspirasi. Salah satunya adalah ketika sedang jatuh cinta, dan terlebih ketika patah hati. Tentang jatuh cinta itu, Dee menyisipkan satu kalimat bahwa ‘sepertinya’ jatuh cinta menjadi indah, menarik dan mengesankan karena kita begitu antusias dengan perasaan yang datang ke hati kita saat itu. Jadi objek yang dijatuhcintai itu sebenarnya blur, menjadi agak terlupakan. Kita jatuh cinta pada perasaan itu sendiri, bukan pada orangnya. Kira-kira seperti itu. Wah, gila!!
Gw percaya dan meyakini sekali pola pemikiran itu. Itulah sebabnya gw juga percaya bahwa ‘cinta tak harus memiliki itu’ memang ada benarnya. Orang bisa kontra dan bilang ‘b*ll s**t’ tentang itu. But yes, there are existing people who deal with that situation. Menjajaki awal perjalanan cinta hingga merasakan ujung yang buntu, gak bisa meneruskan perjalanan, mentok, tapi gak bisa menghentikan rasa yang ada. Mentok karena beda agama, jarak yang jauh, dipisahkan kematian, tidak disetujui keluarga, percintaan sejenis, atau tembok tembok kuat lainnya. Ada yang tetap menjalani dengan diam-diam, backstreet, dan ‘melayang-layang sendiri’. Ada yang stop lalu menjalani cinta dengan orang yang lain. Dan ada juga yang menjalani cinta dengan orang lain tapi tetap diam-diam menjalani yang mentok tadi. Yang pertama dan yang ke-tiga inilah yang menarik. Ketika ‘tembok’ setinggi apapun tak menghalangi perjalanan cinta.
Kenapa bisa begitu? Karena ketika jatuh cinta itu dirasakan dan dijalani di awal, sudah muncul sensasi yang seakan menempatkan kita di kebun tulip luas yang cerah. Ketika jalan buntu ditemui, ternyata sensasi itu bertumbuh, kita tertantang. Kebun tulip itu meluas, warna jingga kuningnya makin menyegarkan. Memabukkan, but it’s very inspirational. Kita (mungkin) jadi lupa sedang bersama siapa di kebun tulip itu karena keindahannya mendominasi pikiran dan hati kita. Rasa indah yang sulit ditinggalkan. Pun jika ditinggalkan, akan sangat dirindukan hingga jalinan cinta itu diputuskan untuk tetap dijalani.
Begitulah hati. Ketulusannya membuat kita jujur, berani menentang badai. ‘Benar’ menjadi sosok yang menyiksa, yang sama sekali tidak mampu memahami proses. ‘Baik menjadi sebuah fakta yang tidak bisa dengan mudah dinaifkan. Akan ada banyak suara yang berbising di persimpangan ini. Akan tetap menyulitkan selamanya.
‘Kebun tulip luas itu tetap akan indah betapa pun cuaca berganti. Atmosfirnya terlanjur menyibakkan pesan penting, terlanjur membuat kita mampu bekerja keras memacu diri, terlanjur menjadi shelter yang terlalu melindungi’.
Terserah apa kata orang, tapi gw juga terlanjur bisa merasakan dengan indah apa yang dirasakan Rana dan Ferre di Supernova 1 atau Jack Twist dan Ennas Del Mar di Brokeback Mountain. Yang satu berpisah tanpa melupakan dan menyesali yang telah terjadi. Yang lain tetap menikmati kebuntuan indah itu hingga waktu membuktikan ketulusan mereka. Dua-duanya gak mudah. Sama sekali gak mudah. Keputusan pahit yang diharapkan mampu melahirkan yang lebih membahagiakan.
It’s about the very strong force of nature…