Archive for March, 2006

Scrambled Pieces

Tuesday, March 28th, 2006

We always have one certain day when a piece be created from a deep thinking mind, hardest emotion and widest desperation…

           ##— As a rain, I believe it’s a big heavy rain with storms and thunders that is happenning to me now. And, I’m certainly not in a place where I’m able to avoid them all. It feels that I’m in a big open place where nothing is higher than me so the thunder might get me anytime. It seems that I’ve got nothing keep me safe from the water and the wind and the storm. And I’m completely alone in that place. 

            Perhaps, I can make something to attrack someone to help me getting out from the place to other place which is safer. Or maybe, I really have to deal the situation all by myself and let the storm goes away, let the thunder moves to others and let the big heavy rain stops. And hope everything after that is amazingly great for me.

But, at this moment I don’t understand how to make people know me and then help me. Either, I’m not sure that the rain will stop soon. And I don’t know how to deal the storm or the thunder. Where should I get and learn that?

Easy to talk and listen that we need to have a wrong or bad things before finally we get the the right and the perfect one. But it is very difficult to face with.

All I know, I have a plan which I think it could be good for me and anyone around me. But, why does everything seem so hard to get ? SO HARD!! Why?  Do I make a wrong plan ? Am I wrong with my predictions ? I just don’t know and I’m totally confused ‘bout all of it. Should I leave the plan and let all just flow away ? Should I ? —##

One big recorded piece of those millions, uncovered. Now we see…

Idleness : pemalas, no more i love you

Sunday, March 19th, 2006

Extra off ini memang gw niatkan untuk seharian di rumah. Gak ngapa-ngapain. Dasar pemalas. Diajak teman untuk pergi bareng ponakan-ponakannya, I said no. Diajak temen on line, I said no. Beres-beres kamar, I said no to myself. Dasar pemalas.

        Bangun pagi. Langsung baca koran 2 eksemplar sekaligus. Di Media Indonesia, baca resensi ‘Berbagi Suami’nya Nia Dinata. Isinya semua pujian, ada pengamat film yang kasih skor 10. Nambah keyakinan buat nonton kalo ntar ‘turun’. Baca kerusuhan papua yang katanya udah makin terkendali. Ampyun deh. Baca petenis-petenis cewek Rusia yang merajai Indiana Wells di Amrik. Hingis kalah, Henin juga kalah. Too bad. Iseng-iseng baca tarot master, katanya Virgo lagi dapet rejeki melimpah , tapi jangan gegabah menggunakannya. Please deh. Di Kompas, baca sekilas Parodi-nya Samuel Mulia, profil Mieke ‘extravaganza’ yang dari model, trus jadi ibu rumah tangga, trus jadi komedian full skrip. Wah, kok kayak jalan tol. Baca cergam-cergam komik khas Kompas Minggu. Cerita tentang salah pilih vallet parking, tentang bau busuk politikus yang minta naik upah, tentang kepalsuan yang merajalela di semua aspek hidup di Indonesia. Weleh weleh. Baca Nama & Peristiwa, ada Tika Panggabean dengan Bincang Bintang-nya, Syaharani dengan Insomnia-nya, trus Indra Bekti dengan mukanya yang muncul di TV anytime. Ehm…ehm…ehm. Tentu saja baca Klasika yang isinya iklan lowongan kerja. Blom ada yang klik banget. Dasar hidup.

        Pergi ke pasar deket rumah, beli gado-gado buat sarapan serumah, naik sepeda (silakan tertawa terpingkal-pingkal). Nonton TV, ada tinju antara Hashim Rachman vs siapa gitu. Kurang penting. Nonton Insert, ada peringkat berita terfavorit seminggu. Juara satu-nya Glen-Dewi. Juara dua-nya kasus Susanna. WOW.

        Tidur siang sambil denger Music Box di Cosmopolitan FM (silakan bekomentar). Antara sadar, setengah sadar dan tertidur selama dua jam. Yang paling dahsyat, waktu denger penyiarnya baca sms dari cosmoners yang minta diputerin No More I Love You –nya Annie Lennox. Dalam keadaan setengah tidur malas dan setengah sadar seadanya itu, ada sorakan dari kasur bantal : “ayo putar lagunya”. Ternyata diputar, jadi didengarkan. Lamat-lamat separuh nyata, berasa hati diiris gak tau kenapa. Bangun deh, jadinya.

        Kirim-kiriman sms ama mantan gebetan yang masih digandrungi, diajak on line tapi malas, tapi kangen pengen ngobrol. Akhirnya diperkenankan nelpon ke esia-nya. Lima belas menit ngobrol, trus udahan. Turun ke bawah, ngemil-ngemil. Nonton F1 Sepang, yang juara Fishichella (auk ah ejaannya ngaco). Nonton Katakan Cinta. Masih ada ya? Cewek nembak mantan cowoknya yang dulu mutusin dia karena ke-gep hts-an ama cowok lain. Wah, untung diterima balik lagi. CLBK rasa coklat tabur almond berhiaskan cherry segar pake fla.

        Extra off di hari Minggu yang gak dibikin-bikin. Niatnya kalo ada yang mo libur, ya gw masuk. Ternyata rejeki gw.

        Extra off di hari Minggu. Practicing the art of idleness. Pemalas.

        Extra off di sebuah Minggu. Penasaran kenapa Annie Lennox bisa mengiris hati. No More I love You…

Forces of Nature

Wednesday, March 8th, 2006

Gw punya idola baru. Dewi Lestari! Gak baru banget sih, wong gw itu sangat gandrung sekali dengan supernova pertama-nya. I believe I read Supernova 1 : Ksatria, Putri dan Bintang Jatuh at the very perfect time. The story, the content, and the message hit me at the very perfect place of my heart and mind. Begitu besarnya si pertama, sampai-sampai si kedua dan ketiga ‘Cuma’ dapet IPK 3,2. Yang pertama tentu saja 4,0. Cum Laude lah yauw!!

Di sebuah sesi interviewnya di Cosmopolitan FM minggu lalu, Dee cerita banyak hal tentang proses karya album solonya ‘Out of Shell’. Lebih luas, Dee cerita seperti apa aja yang membuatnya kebanjiran aliran inspirasi. Salah satunya adalah ketika sedang jatuh cinta, dan terlebih ketika patah hati. Tentang jatuh cinta itu, Dee menyisipkan satu kalimat bahwa ‘sepertinya’ jatuh cinta menjadi indah, menarik dan mengesankan karena kita begitu antusias dengan perasaan yang datang ke hati kita saat itu. Jadi objek yang dijatuhcintai itu sebenarnya blur, menjadi agak terlupakan. Kita jatuh cinta pada perasaan itu sendiri, bukan pada orangnya. Kira-kira seperti itu. Wah, gila!!

Gw percaya dan meyakini sekali pola pemikiran itu. Itulah sebabnya gw juga percaya bahwa ‘cinta tak harus memiliki itu’ memang ada benarnya. Orang bisa kontra dan bilang ‘b*ll s**t’ tentang itu. But yes, there are existing people who deal with that situation. Menjajaki awal perjalanan cinta hingga merasakan ujung yang buntu, gak bisa meneruskan perjalanan, mentok, tapi gak bisa menghentikan rasa yang ada. Mentok karena beda agama, jarak yang jauh, dipisahkan kematian, tidak disetujui keluarga, percintaan sejenis, atau tembok tembok kuat lainnya. Ada yang tetap menjalani dengan diam-diam, backstreet, dan ‘melayang-layang sendiri’. Ada yang stop lalu menjalani cinta dengan orang yang lain. Dan ada juga yang menjalani cinta dengan orang lain tapi tetap diam-diam menjalani yang mentok tadi. Yang pertama dan yang ke-tiga inilah yang menarik. Ketika ‘tembok’ setinggi apapun tak menghalangi perjalanan cinta.

Kenapa bisa begitu? Karena ketika jatuh cinta itu dirasakan dan dijalani di awal, sudah muncul sensasi yang seakan menempatkan kita di kebun tulip luas yang cerah. Ketika jalan buntu ditemui, ternyata sensasi itu bertumbuh, kita tertantang. Kebun tulip itu meluas, warna jingga kuningnya makin menyegarkan. Memabukkan, but it’s very inspirational. Kita (mungkin) jadi lupa sedang bersama siapa di kebun tulip itu karena keindahannya mendominasi pikiran dan hati kita. Rasa indah yang sulit ditinggalkan. Pun jika ditinggalkan, akan sangat dirindukan hingga jalinan cinta itu diputuskan untuk tetap dijalani.

Begitulah hati. Ketulusannya membuat kita jujur, berani menentang badai. ‘Benar’ menjadi sosok yang menyiksa, yang sama sekali tidak mampu memahami proses. ‘Baik menjadi sebuah fakta yang tidak bisa dengan mudah dinaifkan. Akan ada banyak suara yang berbising di persimpangan ini. Akan tetap menyulitkan selamanya.

‘Kebun tulip luas itu tetap akan indah betapa pun cuaca berganti. Atmosfirnya terlanjur menyibakkan pesan penting, terlanjur membuat kita mampu bekerja keras memacu diri, terlanjur menjadi shelter yang terlalu melindungi’.

            Terserah apa kata orang, tapi gw juga terlanjur bisa merasakan dengan indah apa yang dirasakan Rana dan Ferre di Supernova 1 atau Jack Twist dan Ennas Del Mar di Brokeback Mountain. Yang satu berpisah tanpa melupakan dan menyesali yang telah terjadi. Yang lain tetap menikmati kebuntuan indah itu hingga waktu membuktikan ketulusan mereka. Dua-duanya gak mudah. Sama sekali gak mudah. Keputusan pahit yang diharapkan mampu melahirkan yang lebih membahagiakan.

            It’s about the very strong force of nature…

Ternyata

Monday, March 6th, 2006

Hidup ini aneh. Meminjam istilah yang digunakan dalam Dunia Sophie nya Jostein Gaarder, kita ini layaknya seekor kelinci. Yup, seekor kelinci yang tiba-tiba dimunculkan oleh ‘pesulap’ dari sebuah topi hitam khas aksi sulap.. Lengkapnya, kelinci alam raya yang dimunculkan dari topi alam raya ke dunia ini. Secara tiba-tiba kita muncul. Lalu kita belajar tentang siapa yang ‘memunculkan’ kita. Kemudian kita mencari tahu di mana kita sekarang berada, ada apa di sini dan untuk apa berada di sini. Dari topi hitam sesak yang kita sadar pun tidak waktu berada di dalamnya, lalu muncul, terloncatkan dari topi itu ke tempat maha luas dan maha misterius. Maka proses mencari tahu itu semua pun  akan memakan waktu seumur hidup kita. Maha banyak yang harus diketahui dan dipelajari.

Satu per satu kejadian, peristiwa dan pengalaman kita alami dengan penuh kejutan. Ternyata api itu panas, ternyata tertimpa meja itu menyakitkan, ternyata ada aturan yang mengikat kita, ternyata teman bisa menghianati dan meninggalkan kita sesuka hatinya, ternyata rencana rapi yang kita susun bisa hancur berantakan berkeping-keping, ternyata kucing yang kita pelihara di rumah bisa hidup sampai 12 tahun lebih, ternyata kue mungil lezat gurih manis bisa berefek buruk pada kesehatan tubuh, ternyata lagu melow yang didengar di malam hari bisa mengembalikan ingatan tentang kenangan kecil jauh dari masa yang lalu, ternyata kebahagiaan dan penderitaan juga dialami orang lain selain kita, ternyata segala petunjuk yang mengarah pun tidak berarti bahwa harapan akan terwujudkan, ternyata kita semua punya ‘kaca mata’ sendiri dalam melihat benar atau salah, ternyata perempuan bersuami bisa jatuh cinta pada laki-laki lain, ternyata kita memang butuh empati bukan dikasihani, ternyata lagu lama bisa terulang kembali, ternyata kejahatan memang berusia sama dengan peradaban manusia, ternyata semangkuk bakso plus gorengan terasa lebih memuaskan, ternyata pemeran antagonis tidak bisa dimusnahkan begitu saja dari sandiwara hidup ini, ternyata yang kemarin salah dan yang sekarang benar, ternyata banyak dari kita punya giliran untuk berkutat dengan perasaan liar yang mengombang-ambingkan isi hati dan otak, ternyata populasi kemunafikan semakin meningkat di setiap habitat dan komunitas.

Kelinci alam raya ini tetap akan terkejut-kejut setiap menyadari sesuatu. Mungkin ia hanya perlu memanfaatkan telinga panjangnya untuk lebih peka akan situasi yang ada tanpa menjadi terlalu pandai menunjuk dia dan kamu salah, tapi saya benar, dan oleh karena itu dia dan kamu harus dimusnahkan.

Kelinci ini akan terus melompat-lompat ke sana kemari, bertemu banyak hal baru hingga menemukan bahwa… ternyata ‘Sang Pesulap’ punya caranya sendiri untuk membahagiakan kita… ternyata kita hanya sok tahu…