Regularly T shirt
Wednesday, February 22nd, 2006Aku adalah sebuah T shirt. Kebetulan aku berwarna hijau. Bukan hijau tua yang gelap. Juga bukan hijau terang yang menyala. Sulit juga sih menggambarkannya dengan jelas. Mungkin warnaku adalah hijau pastel yang berkesan matang. Mudah-mudahan memang ada ya istilah tipe hijau seperti itu. Itu baru warna dasarnya. Di posisi tengah depan, ada sebuah huruf J besar, dari bagian dada hingga dekat pusar. Huruf J kapital mirip font bookman old style. Warna huruf J itu adalah kuning pastel muda yang sedikit menyala. Bahannya sendiri sih katun biasa tapi tidak termasuk jenis yang tidak mudah melar. Lalu warna bahan sedikit elastis yang biasa ada di lingkar leher-ku adalah hijau tua yang hampir mendekati hitam. Yup, I’m such so simple.
Aku dibeli sekitar satu setengah tahun yang lalu oleh Andi. Jadi jelas, huruf J pada tubuhku tidak ada hubungannya dengan nama pemilikku. Tidak inisial, tidak nama belakang, tidak nama pacar, tidak juga nama mantan pacar. It’s just a ‘J’. Aku dibeli di sebuah gerai baju casual di sebuah mall. Harganya gak terlalu mahal, cuma Rp 119.000. Sepertinya, aku dibeli tanpa niat khusus. Kebetulan aku didisplay digantung di deretan terdepan di sisi terluar sebuah koridor di gerai itu. Saat itu, Andi sedang bersama temannya. Dari jauh Andi dan temannya sudah setuju bahwa aku ‘keren’. Ya warnanya, huruf J-nya, harganya, dan ternyata juga ukurannya. Walhasil, hanya butuh 7 menit bagi Andi untuk memutuskan membeliku.
Sekarang aku terlipat rapi di lemari pakaian bersama dengan koleksi T-shirt lainnya milik Andi. Di tumpukanku ini, ada sekitar 15 T Shirt beraneka warna, motif dan bahan. Di sampingku, tertumpuk koleksi polo shirt bermacam bahan dasar yang kira-kira berjumlah 12 buah.. Juga dengan berbagai pilihan warna. Kalau aku perhatikan, lengkap juga aneka warna kami ini. Putih, biru muda, peach, kuning, hijau terang, hitam, merah marun, pink, coklat pastel, biru tua, kuning muda dan aku dengan hijau spesifik itu. Belum lagi motif dan model dan aksen variasi yang membuat kami menjadi spesifik, masing-masing. Di shelf atas, Andi menyimpan baju-baju rumah atau yang biasa dipakainya untuk joging, basket, atau fitnes. Di situ ada beberapa potong kaus kutung, T shirt tipis, dan sporty short pants. Laci di bawahku berisi 10 buah simple shirt beraneka model leher yang biasa dipakai sebagai kaus dalam. Juga ada di sana, segala koleksi underwear pants, boxer, brief boxer, G String dan swim pants.
Masih satu lemari, di pintu sebelah adalah tempat segalanya yang tidak dilipat, tapi digantung. Belasan kemeja casual maupun formal, 7 potong celana jeans , 2 corduroy pants, 2 permanent press, 5 potong formal pants berbeda pilihan warna dasar, jaket kulit, jaket denim, dan jaket sporty. Satu shelf panjang di atas hanger, ada sweater, hem rajut, selimut, sejumlah kecil dasi, ikat pinggang, dan satu kotak aksesoris.
Sebagai T Shirt, aku pernah berkesempatan menginap di tiga lemari pakaian yang berbeda. Satu kali di lemari pakaian milik teman Andi. Waktu itu aku tertinggal setelah Andi terpaksa menginap di rumah temannya ini. Setelah dicuci bersih setrika rapi, aku terlipat di sana selama 3 hari. Di sana aku melihat lemari pakaian yang lebih besar dan tentu saja dengan koleksi yang jauh lebih lengkap daripada yang dimiliki Andi. Kali berikutnya aku pernah tertinggal di kamar kos teman Andi yang lainnya. Kamar yang tidak terlalu besar, lemarinya juga kecil. Maka di sana aku melihat koleksi yang lebih sedikit daripada lemari tempat aku tinggal. Yang terakhir aku menginap di lemari pakaian berisi pakaian wanita.
Aku pernah merasa kalau aku ini bukan pilihan favorit Andi. Ternyata, cepatnya Andi membeliku karena waktu itu Andi sedang butuh T shirt hijau yang menjadi dress code reuni SMU nya. Setelah itu, aku sendiri lumayan jarang dipakai. Walaupun aku terbilang baru tapi Andi lebih sering memakai T Shirt lainnya yang sudah agak lebih lama dimilikinya. Tentu saja aku tidak bisa berharap akan dipakai di semua occasion. Paling formal sekalipun, aku harus dilapisi jaket, itupun harus dibantu sepatu yang bukan sembarang sneakers. Mungkin aku hanya pelengkap. Jadi memang paling gampang ya dipakai waktu ke kampus. Tapi bukan untuk ujian karena saat ujian mahasiswa harus memakai kemeja. Aku seperti tidak punya peran penting apa-apa. Sementara, kemeja kasual bisa membuat jeans belel lebih berkesan formal. Ikat pinggang bisa membuat manis lingkar pinggang, apapun baju dan celananya. Jaket, karena dipakai di lapisan terluar, pasti jadi yang pertama menarik perhatian orang. Bahkan G string, meskipun gak terlihat tapi secara psikologis bisa meyakinkan pemakai bahwa dia seksi. Mungkin hanya kaus kaki yang bernasib lebih buruk daripada aku. Gak terlihat, letaknya di bawah, cuma kebagian ‘harum’ kaki pula. Yaaahh, begitulah nasib sebuah T shirt biasa…
Tapi kejadian bulan yang lalu membuatku berpikir lain. Ceritanya begini. Dulu, Andi pernah suka sama seorang cewek, temen sekampusnya. Namanya Rika. Pendekatan demi pendekatan dilakukan sampai mereka sadar bahwa tidak ada yang bisa diteruskan karena Rika udah punya pacar di kampus lain di luar kota. Agak sedih juga mengingat sebenarnya mereka saling suka. Tapi Rika memutuskan untuk tidak mau menyakiti pacarnya. Dan Andi juga tidak mau memaksa Rika untuk memilih dia. Maka berhentilah usaha pendekatan itu.
Karena mereka tidak ada di jurusan yang sama, jadi memang kecil kesempatan untuk ketemuan. Komunikasi juga jarang sekali. Ketika Rika putus dari pacarnya, Andi jelas gak tau. Rika gak cerita karena merasa gak enak.
Nah, bulan lalu Rika ulang tahun. Andi tahu itu tapi gak berniat cari-cari kesempatan untuk punya acara bareng Rika. Hari itu, dua-duanya masih ada di kampus sampai sore. Andi berniat menghampiri Rika di gedung B untuk sekedar memberikan ucapan selamat ulang tahun. Sesampai di gedung B, ternyata Rika sedang habis-habisan dikerjai teman-temannya. Dilempari telur, dilumuri tepung dan kopi, lalu disemprot air. Gila memang. Emang masih jaman ya ulang tahun dikerjain begitu? Itulah juga sebabnya Rika gak prepare apa-apa. Singkatnya, gak bawa baju ganti. Andi lihat itu semua. Tapi toh dia gak bisa berbuat banyak. Begitu semua acara gila itu selesai, Andi mendekati Rika, memberi ucapan selamat dan mengetahui bahwa Rika gak bawa baju ganti. Hebatnya, 4 hari sebelumnya aku baru dipakai Andi tapi ketinggalan di rumah temannya karena Andi sempat ganti baju buat acara formal dadakan malam itu. Dan di hari ulang tahun Rika itu, dalam keadaan bersih, aku dikembalikan ke Andi. Jadi Andi langsung mengeluarkan aku dari tasnya, lalu membujuk Rika untuk memakaiku sementara untuk sampai pulang ke rumah. Rika setuju. Sore itu Andi juga mengantar Rika pulang. Tentu saja terjadi banyak obrolan di antara mereka, termasuk bahwa Rika sudah putus dari pacarnya.
Ini bagian yang terhebat. Andi bilang bahwa Rika cantik sekali sore itu, walaupun kucel habis dikerjai. Entah karena sudah tahu Rika putus, entah episode lalu mereka memang harus berlanjut, tapi ‘cantik’ itu bersamaan dengan aku yang sedang dipakai Rika. Rika bilang terima kasih, lalu jujur bahwa Rika pertama kali suka sama Andi waktu Andi main basket di kampus. Berkeringat… dan lagi pakai kaus hijau dengan huruf J kuning di depan. Ya, benar sekali, itu…. aku. Ya, itu aku. Sekali lagi, itu aku. Malam itu menjadi langkah penting hingga akhirnya, selang beberapa hari, Andi resmi berpacaran dengan Rika… dengan aku mengambil porsi peran di sana. Bahagianya…
Setelah jadian sama Rika, Andi tetap jarang memakai aku di berbagai kesempatan. T shirt lainnya tetap menjadi pilihan, bahkan untuk berkencan dengan Rika. Rika juga jarang menyinggung aku ketika bertemu Andi. Mereka baru membicarakan aku kalau aku dipakai Andi ketemu Rika. Tapi aku tetap bahagia. Aku tahu aku punya peran pada kehidupan mereka, sesedikit apapun itu. Bukannya berjasa, tapi aku pernah ada di potongan penting hidup mereka, Andi dan Rika.
Aku bahagia…