Archive for December, 2005

Again, marriage

Tuesday, December 20th, 2005

            Setidaknya di penghujung tahun 1998. Sudah sekitar 1 tahun rupiah terdepresiasi. Sudah sekitar 1 tahun pula harga (sembako) naik berkali-kali lipat. Itu berarti himpitan dalam memenuhi kebutuhan hidup. Itu berarti ada perombakan lagi dalam skala prioritas hidup tiap keluarga. Satu tahun pasti belum cukup untuk menemukan keseimbangan baru.

            Tapi toh di waktu yang sama, juga terlihat wanita ‘mengandung’, ibu menggendong bayi usia ‘muda’ dan acara-acara syukuran pernikahan di permukiman ‘perkampungan’. Sepertinya mereka bukan kalangan mampu, kaya atau mumpuni. Mungkin merekalah wong cilik. Wanita mengandung berarti ada keputusan untuk menyelesaikan rencana mempunyai anak. Ibu menggendong bayi usia ‘muda’ menunjukkan keputusan untuk punya satu lagi tanggungan. Mungkin senada pula dengan yang ditunjukkan oleh adanya pernikahan di tempat yang disebut di atas. Terpikir, betapa hebatnya mereka. Membuat keputusan besar, besar sekali, seperti tanpa peduli atau merasakan perubahan kehidupan ekonomi itu. Padahal keputusan-keputusan itu berimplikasi langsung pada peningkatan kebutuhan hidup mereka, mengingat adanya status baru dan tanggungan baru. Masih ingat isi paragraf pertama kan? Ya benar, tapi lalu mereka tetap berkeputusan membentuk dan menyempurnakan bentuk keluarga di tengah situasi itu.

            Paruh kedua tahun 1999, hadir sesosok manusia baru. Keponakan perdana lahir dan gw berkesempatan untuk melihat dan merasakan ia hidup, tumbuh dan berinteraksi dengan orang terdekatnya. For the first time in my life, gw diberi pengalaman itu, bukan hanya dalam hitungan minggu atau bulan tapi 2 tahun. You know what? Sebagai oom saja, gw bisa merasakan banyak keajaiban indah dari pengalaman itu. Bayi kecil yang tumbuh di tengah kita, seperti cermin besar yang mampu menampakkan sisi besar keindahan hidup. Bagaimana juga kalo itu dirasakan oleh orangtuanya sendiri. Bayangkan multiplyer effect-nya.

            Selesai? Belum!

           Di luar sana kan juga ada orangtua yang membunuh anaknya sebelum lahir. Membiarkan lahir tapi dibuang. Membiarkan lahir dan tumbuh tapi dianiaya, fisik dan verbal. Dibiarkan hidup, tapi dipancung keinginan dan hasrat hidupnya.

            Aneh tapi benar-benar nyata. Layaknya protagonis dan antagonis yang hidup dalam satu judul film. Benar-benar nyata. It’s like a motion picture, rolling over without anything we can do significantly.

            Hidup seperti menawarkan satu babak yang menggoda tapi membebani, menyesakkan tapi membahagiakan. Manusia seperti benar-benar tahu pentingnya itu untuk dilakukan hingga benar-benar dilakukan betapapun kerusakan yang terjadi atas ‘kesoktahuan’nya itu. Manusia seperti tergoda pesona kebahagiaannya hingga bersedia menanggung resiko pedih perih pengorbanannya. Manusia seperti tersihir untuk membelanya mati-matian. Manusia seperti sales person amatir yang menjajakannya tanpa bisa menjelaskan the whole product knowledge. Manusia seperti terpacu untuk menjadikannya sebagai alat ukur menangnya perlombaan walau perlombaan itu tak pernah ada.

            Pernikahan.

Buat gw, inilah rahasia Illahi sesesungguhnya, yang dengan sistematis masuk ke alam bawah sadar pikiran dan hati untuk menjadikan hambaNya  secara tulus, ikhlas, tentram, rendah hati, adil,  berpengetahuan dan berkesadaran mendapatkan arti kebahagiaan… lahir batin…