Lepas rekat
Wednesday, November 30th, 2005Siapa bilang, umur cuma sekedar umur. Terakhir kali gw melihat kelakuannya, ia mampu melahirkan tuntutan-tuntutan, membuat stres, membuat situasi seperti dikejar-kejar, dan berpotensi merusak mental orang. Paket kehidupan memang membuatnya seperti itu, entah kapan kita benar-benar mampu melepaskan diri dari itu. Atau memang gak perlu?
Oke, anggap saja kita cuek akan kita sendiri lalu seolah mampu lepas dari belenggu itu. Tapi lihatlah society bekerja. Umur merasuki alam pikiran bawah sadar tiap orang dalam memandang segala sesuatu. Cara meluangkan waktu, ketepatan tingkatan karir, pencapaian level pendapatan, interaksi lawan jenis, komitmen rumah tangga, dan jutaan items kecil lainnya.
Coba ambil saja satu dari mereka, lihat apa yang terjadi pada orang-orang sekitar kita akan ukuran itu, dan sadarlah kita betapa umur dibuat jadi pijakan untuk mengeraskan hidup yang lembut ini. Tempatkan diri loe pada status lajang di umur setelah 25. Lihat teman-teman sejawat, berapa banyak yang sudah memiliki status yang berbeda dengan loe. Perhatikan sikap orang tua pada tiap kali kita berinteraksi atau tidak berinteraksi pada lawan jenis. Perhatikan pula pernyataan yang (siap) diajukan oleh mereka tentang itu. Lalu bandingkan dengan apa yang loe pikir, loe inginkan dan loe rencanakan tentang itu. Terakhir, gmn perasaan loe tentang itu semua? Kalo bukan tekanan, tidak merasa dikejar dead line, lucky you. Tapi keadaannya mungkin bisa berbeda. Sibuk membuat comparison list dari bakal-bakal calon yang ada, kencan-buta sana kencan-buta sini, sementtara masalah keinginan udah bukan main besarnya. Jadi kusut melihat undangan resepsi kerabat, muka jadi kering tak bersinar, langkah kaki makin cepat (karena merasa dikejar), atau justru melambat lunglai (karena putus asa). Belum lagi otak dan hati yang masih berkolaborasi membentuk stereotype kriteria calon yang diinginkan. Wwwuuuiiihhh……:(
Baru satu ukuran. Remuk sudah otak.
I found an interesting way, actually. Just detach yourself for a while, routinely but under control. Maka yang terlihat adalah warung roti bakar mungil yang damai dihuni oleh keluarga tentram, sampainya teman pada kehidupan rumah tangga tanpa embel-embel ukuran tapi bahagia terasa, atau rumah kecil temaram di pinggir jalan raya yang berkesan hangat.
Just look at us, throughing our own path ’till now. Feel that we have been really out of control but ‘nature’ worked for us. Sampailah kita pada sekarang, dengan segala yang melekat pada kita, di ruang kita sendiri, tapi tidak sendiri. Dan mungkin seterusnyalah hidup ini berjalan…