Archive for September, 2005

Baik, burukkah?

Saturday, September 24th, 2005

Gw gak tau kapan persisnya manusia mulai mampu memilih dan
menentukan sesuatu buat dirinya sendiri. Tapi sepertinya lingkungan
telah mulai mempengaruhinya sejak manusia lahir. Bla… bla… bla…
sampai suatu ketika gw merasa dan bahkan juga berpikir bahwa banyak hal
buruk yang melekat di gw adalah akibat dari lingkungan yang tidak
mendukung gw ’sepantasnya’. Pembenaran itu berbunyi ‘they never gave me
this but they always force me to do that, how could I?’

Tapi lalu gw sadar bahwa pembenaran itu tak juga ‘pantas’ untuk
ditegakkan. Karena di belahan yg lain, gw sudah lama meyakini bahwa
kita (manusia) memang berbakat berbuat salah, dengan atau tanpa
pengaruh dari manapun. Yang terjadi di luar sana hanya patut diambil
baik-baiknya saja. Reaksi destruktif, semulia apapun alasannya, tetap
destruktif. Dan kita sendiri yang menjadi penyebabnya coz we make our
own decision.

Gw sih jelas gak tega menyalahkan Inul atas segala perkosaan (kalo
ada) yang terjadi setelah menyaksikan show-nya. Gaya Inul (menurut gw)
gak estetis apalagi indah, tapi urusan moral, kita sendiri yang
menentukan. Gw sungguh gak sampai hati merusak outlet McD atau KFC
berapapun jumlahnya, cuma dan cuma karena nun jauh di sana sang pemilik
franchise menyumbangkan labanya untuk kepentingan Gold Glory Gospel.
Kecuali kalo bunuh diri emang sebuah kebiasaan. Paling2, gw cuma bisa
angkat topi buat rumah-rumah makan yang menahan diri mengekspos
hidangannya waktu bulan puasa. Itu pun tanpa aksi proposal meminta
mereka melakukan itu. Siapa yang salah sih kalo diri kita ‘tergoda’?

Susah memang menerima kenyataan bahwa kita tidak mendapat back-up.
Tapi lebih penting untuk berpikir mendapatkan atau menciptakannya
sendiri.

Pada akhirnya, orang (termasuk gw) memang hanya mampu melihat dari
hasil akhir, tak peduli bagaimana bisa sampai begitu. Mungkin karena
sudah terlalu banyak alasan yang menipu kita.  Tapi  mungkin juga
karena kita  dinilai sebagai manusia  dewasa,  yang  seharusanya  bisa
memutuskan  sesuatu  yang baik, dengan baik dan untuk kebaikan.
Darimana kita belajar untuk itu,  orang tak terlalu peduli.   Maka
ketika kita berbuat hal yang buruk atau berakibat buruk, walaupun tanpa
sengaja, tetap kita yang akan dipersalahkan.

Rajin-rajin bercermin mungkin bisa menjadi kebiasaan yang positif.
Lihatlah diri kita dan diri orang lain di sana seutuhnya. Tentang
rangkaian proses, tentang interaksi yang saling mempengaruhi, tentang
hasil akhir dan tentang penilaian dari kita dan atas kita. Cobalah
lihat lagi ke sana, mungkin ada sosok yang tetap berupaya berpikir dan
berbuat baik, sekedar membuktikan betapa menyenangkannya menjadi baik,
TANPA terlalu banyak membicarakan hal buruk, apalagi membubuhkan cap
itu pada orang lain. Hanya menjadi baik dan berharap orang melihat
kesejukan menjadi baik. Aah, itukah kedewasaan?

Cerita Lama…

Monday, September 19th, 2005

Sesungguhnya tidak ada pola yang begitu seragam dalam hidup ini. Setiap orang punya jati dirinya sendiri, nasib dan peruntungannya sendiri, peran dan tanggung jawabnya sendiri, pola pikir, ruang lingkup, tantangan, cobaan, ujian dan godaan yang spesifik buat dirinya sendiri. Atau paling tidak, ya seperti itulah polanya, tiap orang punya jalurnya masing-masing. Beda tapi sama. Mirip alias serupa. Tapi tetap tidak akan sama.

Itulah hipotesa yang gw upayakan beberapa waktu belakangan ini untuk terjawab dan terbukti kebenarannya. Tidak buat siapa-siapa. Cukup untuk gw. Begitu subjektifnya, hingga gw memang mengamatinya dari pengalaman gw sendiri. Gw juga tidak punya deadline untuk membuktikan hipotesa itu.

‘Petunjuk’ terakhir mengatakan bahwa ketika suatu permasalahan hidup dikemukakan seseorang, maka orang yang mendengarkan, pada akhirnya cuma bisa berkomentar (bisa juga dalam hati) ‘Wah berat juga ya masalah loe, ternyata masalah gw gak seberapa berat dibanding yang loe hadapi’. Atau sebaliknya ‘Yaah, baru segitu, I’ve been through that, even worse’. Kira-kira tone nya seperti itu.

Truss? Ya, berarti masalah yang muncul di kita kemungkinan besar gak baru. Orang lain mungkin sudah pernah melewatinya atau bahkan sedang menghadapinya, sama seperti kita. Mungkin yang kita hadapi lebih berat, atau lebih ringan. Yang jelas, somehow somewhere out there orang lain juga mengalami hal yang serupa. Cuma belum kita konfirmasikan aja ke orang lain sehingga kita pikir masalah yang kita hadapi itu baru, brand new. Padahal, jangan-jangan cuma masalah klasik.

Berarti juga, di sinilah pentingnya punya temen cerita. Mungkin dari dia kita gak dapet solusi langsung, tapi begitu kita cerita kita akan mendapat konfirmasi tentang status masalah kita. Dari situ kita kita bisa mengira-ngira seberapa berat masalah kita. Konon, walaupun kita belum keluar dari masalah tapi ketika kita menyadari bahwa we are not alone, itu sudah amat menghibur dan mentally help. Meskipun jalan keluarnya belum ditemukan.

Ups, berarti juga hidup ini memang berpola. Setidaknya kejadian-kejadian dalam pola besarnya terjadi berulang berpindah bergiliran dari satu orang ke orang lain. Yup, pola besar, jadi teknis dan detil permasalahannya tetap berbeda dan memerlukan solusi yang berbeda-beda pula. Dari sini baru kitalah sendiri yang tentukan mau diapakan permasalahan yang kita hadapi.

Hipotesa belum terbukti, petunjuk mungkin sudah didapat. Tapi yang pasti mengenai problem solving, gw udah sok tau… J