A perfect-on-both-cheek hard red slap
Thursday, May 19th, 2005Kali ini May memberikan saya kesempatan untuk bercermin. Hanya saja cerminnya banyak, besar-besar dan galak-galak.
Awalnya saya senang dihadapkan pada cermin-cermin itu. Manusiawi, dengan bangga bisa melihat, merasakan dan mendengar tepukan atas segala kebaikan-kebaikan yang (rasanya) ada. Tak lama, situasi berubah. Bukan cuma bayangan yang ditunjukkannya, melainkan dan terutama hasil mental perlakuannya pada saya. Bagaimana tidak? Mereka bergabung, bersinergi seraya berkolaborasi dan bekerja sama menciptakan bayangan sisi lain saya yang sudah saya sadari, tapi agak saya ingkari. Bukan menghindar, tapi hendak melihat bayangan cermin lain, alih-alih saya mendapatkan gambaran lain yang nadanya kira-kira sama. Introspeksi… Evaluasi…
Bahwa saya tidaklah se-overqualified itu. Overestimate memang pandai membawa saya ke awang-awang, melayang, mabuk kepayang, tak sadarkan diri dan jatuh terseok-seok.
Bahwa saya telah cukup jauh mengingkari janji untuk jauh dari kebengisan, seberapapun itu terasa seperti kedewasaan.
Bahwa saya MEMANG penakut. Penderita trauma rasa sakit sekaligus penghindar resiko.
Bahwa saya hanya bisa menyandingkan benar dengan lemah, atau salah dengan kuat. Tidak benar tapi kuat.
Bahwa saya adalah orang dengan usia tidak juga muda, yang sulit mengakui kecuali di’tampar’ keras, berkali-kali, dua sisi, dan membekas merah.
Bahwa bayangan cermin tak pernah salah. Tidak mengurangi, tidak juga berlebihan…