Archive for May, 2005

A perfect-on-both-cheek hard red slap

Thursday, May 19th, 2005

Kali ini May memberikan saya kesempatan untuk bercermin. Hanya saja cerminnya banyak, besar-besar dan galak-galak.

Awalnya saya senang dihadapkan pada cermin-cermin itu. Manusiawi, dengan bangga bisa melihat, merasakan dan mendengar tepukan atas segala kebaikan-kebaikan yang (rasanya) ada. Tak lama, situasi berubah. Bukan cuma bayangan yang ditunjukkannya, melainkan dan terutama hasil mental perlakuannya pada saya. Bagaimana tidak? Mereka bergabung, bersinergi seraya berkolaborasi dan bekerja sama menciptakan bayangan sisi lain saya yang sudah saya sadari, tapi agak saya ingkari. Bukan menghindar, tapi hendak melihat bayangan cermin lain, alih-alih saya mendapatkan gambaran lain yang nadanya kira-kira sama. Introspeksi… Evaluasi…

Bahwa saya tidaklah se-overqualified itu. Overestimate memang pandai membawa saya ke awang-awang, melayang, mabuk kepayang, tak sadarkan diri dan jatuh terseok-seok.

Bahwa saya telah cukup jauh mengingkari janji untuk jauh dari kebengisan, seberapapun itu terasa seperti kedewasaan.

Bahwa saya MEMANG penakut. Penderita trauma rasa sakit sekaligus penghindar resiko.

Bahwa saya hanya bisa menyandingkan benar dengan lemah, atau salah dengan kuat. Tidak benar tapi kuat.

Bahwa saya adalah orang dengan usia tidak juga muda, yang sulit mengakui kecuali di’tampar’ keras, berkali-kali, dua sisi, dan membekas merah.

Bahwa bayangan cermin tak pernah salah. Tidak mengurangi, tidak juga berlebihan…      

Time Zone

Tuesday, May 3rd, 2005

Mungkin, gw adalah orang yang amat melankoli. Maka masa lalu gak pernah benar-benar bisa gw tutup rapat, apalagi dihapus. Sweet memories selalu bisa dengan mudah terputar rekamannya oleh mahluk bernama ‘malam’. Kenangan buruk hampir tak pernah terlupakan goresan lukanya. Dan bahkan, mungkin, gw adalah orang yang (sangat)sulit memaafkan kesalahan(tertentu) yang dibuat orang lain pada gw. Maka mungkin, gw juga adalah orang yang sulit berdamai dengan masa lalu.

Dengan tipe seperti itu, gw jadi orang yang juga sulit membuang barang-barang, yang menurut gw, punya nilai kenangan tertentu. Kalau kenangannya bernilai baik, gw jadi sayang membuangnya. Kalau bernilai buruk, gw akan amat malas menyentuhnya. Traumatis, gw menyebutnya.

Walhasil, episode membereskan kamar bisa memakan waktu yang lama buat gw. dari proses merencanakan, menyeleksi sampai eksekusi. Dan hal teakhir menjadi hal yang jarang gw lakukan. Singkatnya, malas. But I believe it’s more sophisticated than being a lazy guy.

Tingkat keharusan yang tinggi membuat gw, akhirnya, mengeksekusi pemberesan kamar gw 2 minggu lalu. Gw harus memutuskan pemindahan text book kuliah yang sangat lama gak gw sentuh dari meja belajar.Gw menemukan bahan ajar dari pekerjaan yang lalu, naskah-naskah kontrak yang pernah gw tandatangani, , berkas-berkas lamaran pekerjaan (i used to be a high-frequently-application-letter-sender), pas foto gw dalam berbagai ukuran, warna, dan sorot wajah, dan lembar asli transkrip nilai gw yang hilang dan belum gw putuskan untuk berempati apa atas kehilangan itu. Gw seperti membaca banyak detil biografi yang entah tertulis oleh siapa.

But above all of those, empat bulan di tahun 2005 ini setidaknya menunjukkan kepada gw bahwa lembaran masa lalu bisa terbuka begitu saja tanpa direncanakan oleh gw sendiri atau siapapun juga. Patah hati, masa kecil (yg ktnya bahagia), cita-cita yang terpatahkan, kegagalan, kekecewaan, kebahagiaan yang terlupakan, orang tua, teman, sepupu, sahabat, mantan pacar, dan seribu kenangan yang menyertainya. SEPERTI membiarkan gw membaca , melihat, mendengar, merasakan kembali apa yang pernah lewat, melanjutkan yang pernah tertunda, mengupayakan kembali yang pernah gw niatkan untuk ditutup kasusnya. Bahkan seperti melalui waktu yang telah lewat untuk memperbaiki sesuatu yang belum sempat disempurnakan di masa lalu.

Mungkin, gw adalah orang yang amat melankoli. Maka masa lalu gak pernah benar-benar bisa gw tutup rapat, apalagi dihapus. Mungkin gw benar, mungkin gw salah akan hal itu. Gw belum memutuskan. Let’s see… :)