self pricing…??
Saturday, April 2nd, 2005Gw menduga telah dengan tidak sengaja bolos dan melewatkan mata kuliah ‘pengantar harga diri’, nahkan ‘harga diri menengah’ selama gw mengenyam ’sekolah’ di keluarga gw. Anehnya, gw boleh ngambil ‘harga diri advanced’ yang lebih banyak praktek lapangannya. Plus harus bikin laporan-aporan mengenai praktek ‘penghargaan diri’ di kalangan sekitar. Tentu saja gw gak lulus karena gak bikin laporan, ketinggalan materi dan sama sekali gak ngerti apa-apa.
Lalu gw memutuskan untuk mempelajarinya lebih dahulu secara otodidak. Gw perhatikan semua orang sebisa gw. Tertemukanlah gw dengan istilah harga diri, kehormatan, wibawa, gengsi, harkat, status, gender, amarah, terinjak-injak, membalas(menginjak), dan pertahanan diri. Mereka seperti jaringan yang saling mungkin mengait, tapi gak terurai jelas di gw. The question is.. what exactly have i missed? Has everyone really get the point? Or is it only me?
Di ujung kelas 2 smu, gw memilih masuk IPS, karena emang syaratnya untuk masuk IPA hanya gw penuhi seadanya dan Sosiologi lebih menarik untuk didalami daripada Fisika dan Kimia. Waktu kelas 3, seorang temen menyatakan sedikit penyesalannya karena merasa sedikit memaksa masuk IPA karena IPA terasa lebih bergengsi. Tapi dia tetap di IPA, ambil jurusan IPA di kuliah, lulus dan seem everything ok. So, gengsi IPA, is it something?
Waktu gw akhirnya merasakan menjadi guru, gw teringat guru-guru gw di SD, SMP dan SMU yang amarahnya keluar cuma karena alasan-alasan sederhana yang ternyata berbuah lemparan kapur, penghapus papan tulis dan bahkan gagang pintu. Menurut gw, semua itu cuma dan semata karena mereka merasa tidak dihormati, bisa hilang wibawa, dan berkurang harga dirinya jika tidak marah. Is it true?
Adu mulut sengit antara supir/kenek angkot dan penumpang kala ongkos atau kembalian yang diberikan kurang 100 rupiah. Is it the ‘thing’?
Waktu gw melintas lajur kendaran di gerbang loby PS, gw merasakan suatu modus berulang. Banyak di antara pengemudi mobil yang melintas di situ, tidak berniat menurunkan laju kendaraan ketika gw atau orang lain hendak menyebrang. I think i’ve tried to be so positive about it, but it happens and happens again. Mungkinkah ‘merasa lebih berhak’ menjadi motif? Is it related?
Belum lagi menyangkut privasi figur publik vs wartawan infotainment, hitung2an jatah warisan keluarga, konflik batas wilayah negara, kavling perairan nelayan pasca otonomi daerah, complain customer, pencemaran nama baik, harta gono gini, dan semua hal yang diributkan atas nama ’saya berhak’.
Gw bangun dan tersadar bahwa gw gak mengerti akan banyak sekali hal. Just an innocent boy who’s pretending to be an adult…:(