moving on..
February 11th, 2008 by dodirachmanThe
story is still on…… !!
Please
visit
www.brokenstairs.blogspot.com
Cheers
The
story is still on…… !!
Please
visit
www.brokenstairs.blogspot.com
Cheers
Ia menampakkan banyak wajahnya waktu-waktu terakhir ini. Begitu banyak kerikil tajam yang siap menelusuk telapak kaki. Terlalu banyak bongkahan batu berukuran ‘tidak kecil’ yang siap melompat dan menghantam apapun di sekitarnya karena terpental oleh lindasan pinggir ban. Tapi kamu harus tetap jalan melewatinya dan merasakan semua. Mungkinkah ada yang khusus bertanggung jawab merapikan jalan untuk kita?
Wajah lama berwujud ‘kemunafikan putih’ terus bermunculan di banyak scene sandiwara ini. Kamu perlu terus mengetahui makna petuah bahwa tugas kita adalah memang ‘saling mengingatkan’. Rambu lalu lintas tetap harus tetap diperhatikan seberapapun polisi sekarang ini bernama belakang ‘korup’.
Satu per satu sosok hilang timbul. Harus tetap mengurusi yang ada walau semua seperti pacar pencemburu. Harus tetap ingat pada yang hilang karena mungkin kamu yang menghilangkannya. Begitu banyak agenda, padahal kamu punya keinginan, cita-cita, khayalan dan mimpi sendiri. Tidakkah mereka punya ruang privasi?
Siapapun yang telah mengambilnya, tolong kembalikan kacamata ‘indah’ saya. Saya sedang tidak ingin disiksa..
Otak bisa berputar dan mengalirkan pikiran sederas mungkin. Mulut bisa mengucap ribuan kata. Jari mampu mengetikkan berparagraf-paragraf. Mereka bisa bersuara dengan nada yang seirama. Tapi lihatlah hati. Mungkin saja ia ada di seberang jalan. Seorang diri. Dan ini sama sekali bukan alasan untuk meremehkannya. Karena sesungguhnya ia bisa berbisik senyaring sirine mobil pemadam kebakaran. Ia mampu mengutus satu porsi bahagiannya untuk menelusuki alur pikiran, dan mengalirkan perintah kepada bibir dan lidah untuk berkata ‘lain’.
Botol mungil itu masih berdiri di sana. Isinya masih lebih dari separuh, karena ia tidak benar-benar diinginkan keberadaannya, meski kadang bisa diperlukan. Lalu kenapa tidak dibuang saja? Otak-kah yang lupa menyingkirkannya, atau hati-kah yang sengaja menyimpannya?
Itulah hati. Metropolitan dengan jiwanya yang bengis itu juga menyelipkan hati untuk merasa, berempati, sentimentil dan hanyut. Campur tangannya juga bisa besar dalam pengambilan keputusan. Otak di sana bisa kering tanpanya.
Ruang hati bisa melar dan ciut. Sepeninggal yang pernah menghuninya, ia akan terasa lebar dan luas, tapi kosong. Mau diciutkan bagaimana?
Mungkin hanya senyum dan syukur yang bisa membantu. Mereka akan mengalihkan kita pada pandangan yang lain. Bahwa dari yang ramai berseliweran di depan, ada satu untuk kita. Kenali mereka yang tertangkap, persilakan masuk yang berkenan di hati, biarkan ia menghuni ruang itu, rasakan kembali bahagianya..
What a life script..
Sepenggal kalimat dalam ‘Mengejar Matahari’ berbunyi seperti ini : ‘Hari ini bukan dimulai sejak kita bangun di pagi hari tadi. Ia mulai jauh sebelum itu’.
Respon pertama saya tentang itu adalah senyum… trus… bengong (seperti biasa). Saya suka sekali kalimat itu. Mungkin karena saya telah sedikit merasakan dan membuktikannya. That’s why saya senyum. Tapi sejauh apa sih perwujudannya? Apa itu hanya melingkupi hal-hal kecil di hidup kita saja? That’s why saya bengong.
Jawaban yang saya dapat adalah : tidak. Kalimat itu tidak hanya menyangkut hal-hal kecil yang remeh. At least, it happened to what I did for a living at my previous time. Here’s the story. Menjalani pekerjaan di mall adalah sesuatu yang saya bela sejak mulai maraknya pembangunan mall di Jakarta. Menurut saya, pembangunan mall baru = peluang besar terbukanya lowongan kerja baru. Pembelaan sederhana (tidak ngotot diucapkan atau diperdebatkan) yang muncul di pikiran seorang anak usia sekolah menengah yang kebetulan gemar jalan-jalan di mall. Dan kalau kenyataannya saya menjadi termasuk salah satu yang saya bela waktu itu, saya rasakan sendiri itu bukan sesuatu yang kecil apalagi remeh. Terlepas dari segala lorong gelap, kerikil tajam, dan jalan terjal yang dilalui untuk itu, saya berpikir setidaknya pekerjaan yang saya jalani dulu tidak dimulai di pagi di mana saya berangkat kerja di hari pertama, tidak dimulai bulan sebelumnya, dan tidak pula saat saya mengirim surat lamaran. Tapi justru dimulai ketika saya mulai berpikir tentang pembelaan pembangunan mall. Itu berarti dimulai sekitar sepuluh tahun sebelumnya.
Here’s another one. Dari sedikit cerita cinta yang saya punya, ternyata saya bisa jatuh cinta mati-matian plus gila-gilaan ama pacar orang… (boleh kok ketawa). Menantang sekali karena ini bukan cerita tentang telapak yang bertepuk sebelah tangan. Suatu rentang waktu sampai akhirnya disudahi karena tak ada yang bisa dilanjutkan, inilah babak di mana saya tidak akan mendapat dukungan dari siapa pun, bahkan sahabat terdekat sekalipun. Sesuatu yang benar-benar menguji kemandirian saya berpikir dan mengambil keputusan. Untuk kasus seperti ini, saya harus membagi cerita gila ini sendiri, meneteskan air mata tanpa ada yang tahu, dan merasakan sendiri runtuhnya perasaan karena gagal. Harus ‘dinikmati’ sendiri karena orang lain melihat ini dengan otaknya, sedang kita merasakannya dengan hati.
And you know what? Saya pikir kesempatan menggilai cinta gila seperti ini, saya ‘peroleh’ dari kekaguman saya pada roman Ferre, Rana dan Arwin di Supernova. Waktu baca itu, fokus terbesar saya adalah Ferre. For your information, Ferre adalah orang yang gak ngapa-ngapain kecuali gila kerja. Ferre cuma punya sedikit sekali cerita cinta. Once he got the chance, Ferre cinta mati pada Rana, yang bersuamikan Arwin. Rana pun merasakan hal yang sama pada Ferre. Sampai akhirnya semua disudahi, Rana kembali pada Arwin. Bayangkan apa yang dirasakan Ferre! Jarang sekali mendapat kesempatan jatuh cinta, dan sekalinya jatuh cinta langsung cinta mati ama istri orang. Happy ending atau tidak, itu terganting persepsi kita. Tapi bagi saya, ending nya berhasil membuat saya merenunginya bertahun-tahun, hingga berkesempatan mengalami hal yang serupa.
Mudah-mudahan saya sudah mengakhirinya. Mudah-mudahan pengalaman ini tidak terulang lagi. Bukan karena kapok atau menyesal telah memulainya, tapi sekali lagi inilah cerita yang amat melelahkan secara lahir batin, walaupun saya yakin pelajaran yang didapat banyak sekali. Mungkin saya tidak bisa menceritakannya pada anda. Saya juga tidak bisa memaksa anda untuk mempercayai saya. Tapi kurang lebih, akhir ceritanya persis serupa.. J
Mengerikan sekali membayangkan semuanya, bahwa apa yang saya pikirkan sebagai prinsip (di otak anak seusia SMU yang amat lugu), apa yang saya kagumi tentang sebuah cerita percintaan, apa yang saya bayangkan tentang masa depan, dan apa yang saya inginkan bisa benar-benar datang menghampiri saya sebagai pengalaman nyata yang komplikasi dan karakteristiknya begitu serupa. Tuhan memang maha kuasa dalam mendengar suara bibir mengucap. Tapi saya juga harus mempercayai bahwa Dia juga mencatat apa yang hati kecil kita pernah rasakan dan otak lugu kita pikirkan tentang apapun.
Saya jadi mengingat-ingat secara mendetil apa yang pernah terlintas di hati dan pikiran saya. Banyak duit, pacar yang saya amat saya sayangi dan menyayangi saya, pekerjaan yang comforting, temen-temen yang mengenal saya begitu dekat, hidup bahagia pastinya. Saya tidak cukup kuat mengingat semua, lagipula tidak cukup jujur untuk bisa menuliskan semuanya. Tapi pasti Dia telah mencatatnya dengan baik di sana … J
Dapur tempat kamu memasak banyak hidangan. Nasi goreng, sayur tumis, perkedel kentang, atau sekedar indomie dan sepoci teh manis hangat. Dapur itu tidak juga selamanya kosong. Tapi kalau kamu sendiri di sana , aku mau di sana juga..
Kamar tidur tempat kamu berpetualang dalam dunia Tenchu, Harvest Moon, atau yang terbaru ; Final Fantasy. Kamar tempat kamu menghabiskan segala dvd series, mengobrol dengan Dee, atau sekedar merapikan dan merapatkan semua isi kamar. Kalau kamu ada di sana bersama kesepian, aku hendak menemani kamu..
Ruang kepala tempat kamu berfantasi, menghayal, membayangkan cita-cita dan menancapkan impian. Aku mau ada di sana .. tersenyum pada keyakinan kamu dan menaruh peluk atas kekalutan yang kamu hadapi..
Tidak juga perlu menamai aku, atau memberi judul segala kesempatan yang mungkin kita punya. Kamu tidak pantas susah untuk dan atas itu..
I’m gonna miss you so much..
Menunggu. Andaikan ia hanya sekedar menunggu angkot lewat, menunggu obat selesai diracik oleh apoteker, menunggu kucing kesayangan melahirkan, menunggu 30 menit lagi untuk istirahat makan siang atau menunggu di antrian teller bank. Cukup sekali mengucap ‘sabar’, ta da…… angkot datang, obat sudah dikemas, 3 anak kucing lucu-lucu sudah bergerak-gerak, jarum panjang dan jarum pendek sudah berhimpit menunjuk angka 12, dan layar monitor sudah menunjukkan nomor antrian kita.
Tapi tidak semudah itu hidup bermekanisme. Menunggu punya begitu banyak wajah. Senyum simpul, tawa ceria, raut masam, kening menekuk, sorot mata melesu, wajah merah padam, bahkan rambut rontok, pipi tirus, bibir pecah-pecah, lidah kelu, dan kelopak mata sembab. Paling tidak sekali dalam hidup, kita dipertemukan dengan menunggu berwajah garang, menenteng kantong plastik besar berisi banyak emosi dan perasaan mendalam untuk kita. Awas, siap-siap depresi.
Tidak percaya? Anda boleh mencicipi rasa menunggu yang ini. Menunggu datangnya pekerjaan baru, atau yang lebih istimewa lagi ; menunggu orang yang kita sayang putus dari pacarnya.
Dunia dan kehidupannya seperti sebuah ruang tunggu besar atas keinginan masing-masing penghuni dunia ini. Kita merasa, memutar otak, dan mengasah akal hingga mendapatkan ide tentang apa yang kita bisa lakukan selama menunggu keinginan kita terwujud. Sekedar baca majalah? Main catur? Scrabble? Monopoli? Bersenandung? Atau berbalas pantun?
Ruang tunggu ini memang menyesakkan. Karena kita tiba-tiba ada di sini, ikut menunggu tapi, bisa jadi, tidak persis tahu apa yang sebenarnya sedang kita tunggu. Banyak dari kita perlu berdarah-darah untuk sekedar tahu apa yang kita ingin tunggu. Lalu? Kembali berdarah-darah mengupayakannya, mengusahakannya, mengharapkannya. Menunggunya… !! Berdarah-darah pula ketika yang datang bukanlah yang ditunggu.
Hidup di dunia. Rentang periode yang aneh…
Pada akhirnya kita membutuhkan lebih banyak orang, bahkan untuk bersenandung sekalipun. Experience the time together, and hopefully the next thing come to us is something that we’re waiting for..
Maafkan saya.. karena tidak setuju dengan semboyan ‘Hari ini harus lebih baik dari hari kemarin, hari esok harus lebih baik dari hari ini’. Tiap hari terlalu unik untuk disamakan. ‘Lebih baik’ hanya persepsi. Jangan-jangan ‘lebih buruk’ tak ubahnya dengan ‘lebih baik’…
Maafkan saya.. karena tersenyum kecut atas kalimat ‘dewasalah’. Saya memang menyisakan ruang yang luas untuk menjadi kanak-kanak. Alih-alih saya mengajak anda : “Mari kita bertarung di cerdas cermat kedewasaan”. Kita lihat siapa yang berhasil duduk di babak bonus…
Maafkan saya.. karena mengacuhkan ‘wake up man, life goes on’. Wake up? Bahkan saya sedang tidak bisa tidur. Life goes on? Anda boleh mencoba hancurkan rumah impian dan cita-cita anda yang dibangun dari pondasi orang lain. Berkumpullah di balai desa, lantas kita bicarakan topik ‘life goes on’ bersama petani dari negara dunia ke-tiga…
Maafkan saya… atas kepemilikan puluhan sabit, ratusan keris, belasan samurai, dan ribuan ranjau darat. Saya punya surat izinnya. Luka yang anda derita bisa jadi karena anda terlalu banyak mondar-mandir gak jelas di pekarangan saya…
Maafkan saya kalau anda tidak paham kepada siapa dan bagaimana saya menaruh hati. Saya tidak pernah mengalungkan sign ‘bersalah’ di leher anda…
Mbak, Eli, Iqbal, Zaki.. kalian boleh lihat semua pemandangan ini…
Tak perlu risau… Hatiku masih selalu untukmu. Jangan bicarakan luka itu. Jangan menghitung waktu yang setahun kurang itu. Aku tidak kemana-mana. Hanya sedang kedatangan tamu. Hatiku.. untuk kamu
Usah resah… Terlalu banyak yang kita punya. Terlalu kuat apa yang sudah tersimpul. Berkenan, sungguh, hati ini memilin waktu. Menanti belahannya..
Maafkan aku… Untuk terlalu mudah tersakiti. Sungguh.. tidaklah ia ada di sana. Hanya teras rumah hati. Kamu.. penghuni ruang utamanya
Maafkan aku… Untuk terlalu mudah mencipta luka. Untuk kesadaran yang terampok. Untuk mata hati yang pernah terhalang. Kamu.. teduh hati perdana
Tidak pernah tidak
Aku… dan kamu… Kita tidak pernah kemana-mana. Hati kita telah mengucap lebih dari kata. Aku terlalu sayang kamu
Harap lelah tak tergapai… Karena aku.. terlalu sayang kamu
Gila! Hati teriris ini tak kunjung menemukan solusi penyembuhnya. Luka hati ini telah menyebarkan keinginan ekstrim ke seluruh penjuru bagian tubuh. Menginspirasi otak untuk mengiris nadi, menyolok bola mata, mencabut batok kepala dari tiang leher, meremas-remas jantung sendiri, menyayat kulit, meninju pipi, membiarkan tubuh terlindas kereta api.
Gila! Orang gila pun mungkin punya keinginan menyiksa diri yang lebih simpel daripada itu. Anak kecil belum mengerti apa-apa pun menjauhi api kompor oleh hanya satu kali peringatan. Mungkin cuma Sponge Bob yang mampu memutilasi dirinya tanpa emosi.
Gila! Bahkan diri semoderat ini pun perlu diberi ujian berat macam ini. Bahkan yang terlaknat pun diberi ampun dan banyak kemudahan bertemu jalan keluar. Bahkan pemimpin rezim maha korup pun masih bisa lolos dari maut, dan tetap bergelimang harta.
Gila! Apa sih keadilan? Apa sih arti setimpal? Apa tuh semua tetek bengek sama rasa sama rata? Di mana kasih sayang yang dijanjikan pada semua? Rasanya tali sudah begitu regang. Menunggu apa lagi untuk putus? Teriak di tepi jurang, lalu terpeleset, tapi terselamatkan dan tetap hidup? Begitukah arti semua ini? Paling tidak masih hidup, cukup begitu?
Mampus kau setan kebenaran! Tertawalah sana sampai mati! Cekikikanlah sampai kering gigimu. Perlukah datang tanpa undangan? Enyah kau setan kebenaran! Terpaksa kuragukan tugasmu. Sengsara sudah hati ini. Nelangsa..
Titik terang, temukan aku segera. Aku sedang tidak bermain. Temukan aku segera. Sebelum semuanya terlambat..
Tiba-tiba terlemparlah pada kesempatan menonton Cars berkali-kali. Gila! Mana pernah membayangkan? Suka aja gak ama balap mobil. Menontonnya sekali. Kedua kali. Berikutnya. Dan sekali lagi. Ternyata bagus. Sederhana.. tapi menyentuh.
Kesimpulannya : Lightning McQueen is very lucky. Sikap sombongnya tidak sampai membuat dia celaka tiga belas atau terperosok masuk jurang. Dia cuma ‘disenggol’ dengan kenyataan finish bersama musuh bebuyutan. Sempat hilang di kota terpencil, tapi tidak pernah kehilangan kesempatan tanding ulang. Bahkan kesempatan itu yang menunggu dan mencarinya. Singkat cerita dia menjadi jauh dari sombong, punya banyak teman, dapet pacar, dan semestinya bisa menang dan menggondol ‘Piston Cup’. Tapi yang terakhir ini dia lepas, mengingat hal-hal baik yang ia sudah dapet. Jadi kemenangan gak jadi hal mutlak yang mesti dinomorsatukan.
Beruntung sekali..
Tapi lihat mobil ini. Yang satu ini bukan pembalap, gak punya musuh bebuyutan, gak sombong, gak suka bikin masalah, bahkan gak pernah melihat apapun sebagai perlombaan. Life ain’t any race, katanya. Cuma mobil biasa yang sedang asik-asiknya mencicipi hidup bersama ‘the lovely one’. Melihat hidup bersama, menyaksikan pemandangan hidup bersama, merasakan masakan salah racik bersama, dengan cukup tenang menyusuri perjalanan pengalaman bersama. Sampai datanglah maha musibah. Kehabisan bensin…
Si mobil mungkin ‘gengsi’ atau malu atau entahlah. Dia tidak pernah bercerita pada ‘the lovely one’ tentang kehabisan bensin ini. Dia cuma berpikir, merasa, dan mengira bakal menjadi masalah besar buat ‘the lovely one’ kalau perjalanan bersama ini dilanjutkan dengan fakta kehabisan bensin. Tak pernah juga ia bertanya, apakah sesungguhnya ‘the lovely one’ tetap berkenan bersama dalam keadaan tanpa bensin dan kesulitan besar menemukan pom bensin. Dan ini kesalahan fatalnya. Si mobil berkeputusan buta untuk membiarkan ‘the lovely one’ meneruskan perjalanan tanpanya. Pikirnya, pasti banyak yang berkenan mengajak ‘ the lovely one’ meneruskan perjalanan. This cars must be so crazy.
‘The lovely one’ bingung, sedih, dan hancur berkeping-keping karena dibiarkan meneruskan perjalanan dengan yang lain. Gila!! Tapi entahlah!!
Dan kenyataan berikutnya adalah sesuatu yang gak terlalu sulit untuk ditebak. Yup. ‘The lovely one’ has unfortunately got another one to go on the journey. Sang mobil melihat, menyadari dan menyesali keputusannya..
Hebat!! Hebat sekali alam ini mengatur bahagia-susah..
Si mobil tentu tak bisa menyalahkan ‘the lovely one’ for being with another now. Begitu pula dengan ‘another’, gak mungkin bisa dipersalahkan. Bahkan si mobil juga tidak bisa menyalahkan bensin yang habis dengan semena-mena. Cuma si mobil yang patut dipersalahkan, wajib bertanggung jawab, dan dan harus menelan keadaan yang ada sekarang.
Hebat!! Hebat sekali alam ini mengatur bahagia-susah. Tak perlu banyak alasan. Tak perlu sesuatu yang ‘besar’ sebagai pemicu. Sementara bahagia telah berubah menjadi susah. Mudah-mudahan ujungnya tetap bahagia. Tapi tetap saja si mobil iri pada Lightning Mcqueen.
Lightning McQueen is f***ing lucky car..